Di tengah ketidakpastian global yang masih membayangi, banyak orang kini mencari lebih dari sekadar tempat berlibur.

Destinasi yang menawarkan ketenangan, rasa aman, dan kedekatan dengan alam semakin diminati sebagai ruang untuk beristirahat sekaligus memulihkan diri.

>>> The Tavia Heritage Hotel Gelar Nobar Piala Dunia 2026 dengan Promo Spesial

Konsep ini dikenal sebagai sanctuary, yaitu tempat perlindungan dan pemulihan yang mampu menghadirkan kenyamanan fisik maupun mental di tengah tekanan kehidupan modern.

Menurut Chairman Pacific Asia Travel Association (PATA) Indonesia Chapter, Dr. (HC) Setyono Djuandi Darmono, Indonesia memiliki sejumlah kawasan yang berpotensi berkembang menjadi sanctuary.

Salah satunya adalah Tanjung Lesung di Kabupaten Pandeglang, Banten.

Berjarak relatif dekat dari Jakarta, kawasan wisata terintegrasi seluas 1.500 hektare tersebut menawarkan berbagai aktivitas wisata, mulai dari wisata bahari, darat, udara, hingga pengalaman budaya yang menyatu dengan lingkungan alam.

Pergeseran Paradigma Pembangunan

Darmono menilai dunia saat ini tengah mengalami perubahan paradigma pembangunan.

Jika pada abad ke-20 pertumbuhan ekonomi banyak ditopang oleh eksploitasi sumber daya alam, maka abad ke-21 justru menuntut kemampuan untuk menjaga dan memulihkan lingkungan.

"Model pembangunan abad ke-21 ditentukan oleh kemampuan kita melakukan restorasi, termasuk restorasi lingkungan," ujarnya.

Perubahan cara pandang tersebut membuat kawasan yang mampu menjaga keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian alam menjadi semakin bernilai.

Alam yang sehat kini tidak lagi dianggap sebagai penghambat pembangunan, melainkan aset penting untuk masa depan.

Pariwisata sebagai Kekuatan Konservasi

Menurut Darmono, keberhasilan sebuah destinasi wisata saat ini tidak hanya diukur dari banyaknya fasilitas atau bangunan yang berdiri.

Kualitas lingkungan yang berhasil dipertahankan justru menjadi daya tarik utama bagi wisatawan.