Hari Lingkungan Hidup 2026 mengusung tema 'Inspired by Nature, For Climate, For Our Future'.

Tema ini menjadi peringatan krusial bagi Indonesia yang mengandalkan sektor wisata alam sebagai daya tarik utama.

>>> Gerakan Mengangkat Betis Efektif Turunkan Gula Darah Setelah Makan

Cuaca ekstrem akibat krisis iklim kini bukan lagi ancaman abstrak bagi industri perjalanan. Sejumlah wilayah di Indonesia mulai merasakan dampak langsung dari perubahan cuaca yang tidak menentu.

Badai dan hujan ekstrem yang dipicu pengaruh Siklon Tropis Senyar menghantam Aceh dan Sumatra Utara pada 25-30 November 2025.

BMKG mencatat curah hujan ekstrem ini memicu banjir, longsor, serta melumpuhkan mobilitas.

Bencana serupa menerjang Bali sebagai ikon pariwisata Indonesia pada 10-12 September 2025. Banjir besar melanda kawasan Denpasar, Badung, hingga Gianyar setelah diguyur hujan ekstrem.

Kondisi ini memicu perdebatan mengenai daya dukung lingkungan dan tata ruang akibat masifnya pembangunan beton.

Pengurangan kawasan hutan dan sawah dinilai memperlemah kesiapan destinasi wisata dalam menghadapi krisis iklim.

Ancaman lingkungan juga menimpa wilayah timur Indonesia, tepatnya di surga bawah laut Raja Ampat. Peningkatan suhu laut di kawasan tersebut memicu risiko pemutihan karang (coral bleaching).

Penelitian konservasi terbaru pada tahun 2025 menunjukkan sebagian terumbu karang di Raja Ampat mulai tertekan suhu tinggi.

Meski begitu, beberapa spesies karang dilaporkan masih memiliki ketahanan yang relatif baik.

Dampak perubahan iklim global juga memukul destinasi wisata internasional.

Otoritas Paris terpaksa menutup sementara sebagian area puncak Menara Eiffel pada 1 Juli 2025 akibat gelombang panas ekstrem Eropa yang mencapai 38-40 derajat Celsius.

Langkah serupa diambil pemerintah Yunani dengan menutup kawasan wisata Acropolis di Athena pada 8 Juli 2025.