Bank Sentral Eropa (ECB) menaikkan suku bunga acuan sebesar seperempat poin menjadi 2,25 persen pada Kamis.

Langkah ini diambil akibat lonjakan inflasi yang dipicu oleh eskalasi perang di Timur Tengah.

>>> FIFA Luncurkan DNA sebagai Anthem Resmi Piala Dunia 2026

ECB menjadi bank sentral global utama pertama yang merespons guncangan energi. Dewan Gubernur ECB menyatakan keputusan pengetatan moneter ini merupakan langkah strategis untuk membendung tekanan inflasi.

Data LSEG menunjukkan pasar sebelumnya telah memprediksi intervensi kebijakan ini menjelang pertemuan Juni.

ECB juga merevisi proyeksi inflasi ekonomi zona euro menjadi rata-rata 3 persen pada 2026 akibat ekspektasi lonjakan harga energi.

Sebaliknya, estimasi pertumbuhan ekonomi dipangkas menjadi 0,8 persen untuk tahun ini.

Presiden ECB Christine Lagarde menegaskan bahwa ketidakpastian ekonomi di kawasan Eropa sangat bergantung pada perkembangan konflik geopolitik yang mengganggu pasokan energi dunia.

"Dampak penuh perang terhadap inflasi dan pertumbuhan jangka menengah akan tergantung pada intensitas dan durasi guncangan harga energi, serta skala efek tidak langsung dan putaran kedua," kata Lagarde dalam konferensi pers.

>>> Kanada Sambut Piala Dunia 2026 dengan Jalur Bawah Tanah Terbesar di Dunia

Inflasi zona euro telah menyentuh angka 3,2 persen pada Mei. ECB menegaskan komitmen untuk terus memantau situasi tanpa terikat pada jalur kebijakan tertentu.

Kepala ekonom Eropa di Deutsche Bank, Mark Wall, menyebut ini adalah kenaikan suku bunga pertama ECB sejak 2023.

Ia juga mencatat bahwa ini adalah kenaikan pertama oleh bank sentral global utama sebagai respons terhadap guncangan energi.

Wall memperkirakan siklus pengetatan moneter ini tidak akan berlangsung lama, meskipun risiko inflasi masih membayangi.

Pengamat pasar memprediksi ECB kemungkinan hanya akan menaikkan suku bunga satu kali lagi pada September.

Kepala investasi di Premier Miton, Neil Birrell, menambahkan bahwa langkah pengetatan ini berpotensi diikuti oleh penyesuaian suku bunga lanjutan pada sisa tahun ini.

>>> Bank Indonesia Proyeksikan Penjualan Eceran Mei 2026 Terkontraksi

Dampak pengumuman tersebut membuat imbal hasil obligasi 10 tahun Jerman turun 2 basis poin di Frankfurt.