Para ahli mendefinisikan kejeniusan sebagai kombinasi orisinalitas, kreativitas, dan kemampuan berpikir dengan cara baru. Meski demikian, penyebab pasti seseorang menjadi jenius masih belum diketahui.

Sebuah studi dalam jurnal Psychology Spot pada 1994 menemukan bahwa gen kecerdasan anak terkait erat dengan kromosom X.

>>> Lava Virat V1 5G Resmi Meluncur: Baterai 6000 mAh dan Layar 120Hz di Harga Rp 2,7 Jutaan

Namun, para ilmuwan meyakini gen bukan satu-satunya faktor penentu.

Menurut penelitian, hanya 40 hingga 60 persen kecerdasan bersifat turun-temurun. Sisanya dipengaruhi oleh lingkungan sekitar.

Meski tidak ada daftar resmi, berikut adalah 12 tanda yang sering muncul pada anak dengan kecerdasan tinggi.

Tanda-Tanda Anak Jenius

Anak jenius biasanya selalu membutuhkan stimulasi mental. Mereka juga mampu mempelajari topik baru dengan cepat.

Kemampuan memproses informasi baru dan kompleks dengan cepat juga menjadi ciri khas. Mereka memiliki keinginan untuk menjelajahi topik tertentu secara mendalam.

Rasa ingin tahu yang tak terpuaskan sering ditunjukkan dengan banyak pertanyaan. Mereka juga mempelajari materi pendidikan untuk tingkat kelas yang lebih tinggi.

>>> 5 Cushion Glowing yang Makin Cantik Seiring Waktu, Tahan Seharian

Anak jenius memiliki kedalaman dan kepekaan emosional. Mereka menyukai topik atau minat yang unik.

Selera humor yang dewasa atau unik juga sering terlihat. Mereka imajinatif dan mampu menemukan solusi kreatif untuk masalah.

Cepat belajar dan lebih sadar tentang diri, situasi sosial, serta masalah global dibanding anak seusianya.

Ciri Fisik Otak Jenius

Pemindaian otak menunjukkan orang jenius memiliki volume otak lebih besar di bagian tertentu. Mereka memiliki lebih banyak bidang abu-abu yang berfungsi untuk memproses informasi.

Individu berbakat juga memiliki peningkatan konektivitas wilayah otak. Bidang putih yang bertindak sebagai pusat komunikasi lebih aktif.

Otak jenius menunjukkan jaringan koneksi yang lebih baik, menghasilkan pemikiran cepat dan kompleks. Selain itu, terdapat peningkatan sensitivitas sensorik dan pemrosesan emosional.

>>> Suara Anak Jakarta: Kota Impian dengan Halte Cerdas dan Bus Listrik

Kondisi ini disebut 'superstimulabilitas', membuat mereka sangat sensitif terhadap emosi orang lain. Hal ini dapat membantu menjalin relasi, namun kadang membuat mereka cepat lelah.