Anak sering merengek meminta dibelikan sesuatu. Banyak orang tua spontan menjawab, "Nggak punya uang" atau "Kita nggak mampu beli itu."

Kalimat tersebut memang terdengar remeh dan sering menjadi respons paling cepat. Namun, menurut psikologi, respons ini sebaiknya tidak dijadikan kebiasaan.

>>> Respons Indonesia usai Produk RI Digetok Tarif Baru AS

Meski diucapkan dengan niat baik agar tidak boros, kalimat "kita tidak punya uang" ternyata dapat membentuk cara pandang anak terhadap uang sejak dini.

Alih-alih memahami keputusan finansial, anak bisa menangkap pesan yang berbeda.

Dikutip dari Times of India, American Psychological Association (APA) menyebut uang sebagai topik yang jarang dibicarakan secara terbuka dalam keluarga.

Padahal, cara anak memandang uang terbentuk sejak masa anak-anak.

Ketika anak terus-menerus mendengar "Kita tidak punya uang," mereka bisa benar-benar mengira kondisi keuangan keluarganya sedang buruk. Kalimat yang dimaksudkan sebagai solusi justru bisa menanamkan kecemasan.

Tiga Alternatif Kalimat yang Lebih Edukatif

Psikolog menyarankan orang tua mengganti kalimat "tidak punya uang" dengan ungkapan yang lebih mendidik. Berikut tiga alternatif respons.

Pertama, "Saat ini uangnya untuk kebutuhan yang lain." Kalimat ini mengajarkan bahwa keputusan keuangan didasarkan pada pilihan dan prioritas, bukan sekadar ada atau tidaknya uang.

Anak belajar bahwa setiap pengeluaran perlu dipertimbangkan.

>>> Resmi: Jurgen Klopp Jadi Pelatih Baru Timnas Jerman

Mereka memahami bahwa uang bisa tersedia, tetapi tidak semua keinginan harus dipenuhi karena ada kebutuhan lain yang lebih penting.

Kedua, "Kita perlu menabung dulu, ya." Kalimat ini memperkenalkan konsep delayed gratification, yaitu kemampuan menunda kesenangan demi tujuan yang lebih besar.

Menurut APA, keterampilan ini penting untuk kebiasaan finansial yang sehat.

Selain mengurangi kekecewaan, mengajak anak menabung mengajarkan bahwa mendapatkan sesuatu membutuhkan proses, perencanaan, dan usaha. Anak belajar sabar dan memahami nilai barang yang diinginkan.

Ketiga, "Masukkan ke daftar kado ulang tahunmu."

Jika barang bukan kebutuhan mendesak, orang tua bisa mengarahkan anak ke daftar keinginan atau hadiah untuk momen spesial seperti ulang tahun, kenaikan kelas, atau hari raya.

Respons ini mengakui keinginan anak tanpa langsung menolaknya.

>>> Sekjen Kemendagri Minta Pejabat Baru Tinggalkan Pola Kerja Rutin

Anak belajar bahwa tidak semua keinginan harus dipenuhi saat itu juga, dan ada waktu yang tepat untuk memperoleh sesuatu.