Bank Indonesia melaporkan penjualan eceran pada Mei 2026 masih mengalami kontraksi. Indeks Penjualan Riil (IPR) tercatat sebesar 225,0 atau turun 3,2% secara tahunan (yoy).

Meski masih negatif, angka tersebut menunjukkan perbaikan dibandingkan April 2026 yang terkontraksi 3,7% (yoy).

>>> Nonton Download Film Animasi Garuda di Dadaku (2026) di Bioskop Bukan LK21: Atmosfer Stadion Terasa Dekat dan Meyakinkan

Secara bulanan, penjualan eceran juga menyusut 0,9% (mtm), lebih baik dari penurunan 11,6% pada bulan sebelumnya.

Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual menilai tekanan terhadap daya beli masyarakat masih berlanjut. Salah satu pemicunya adalah kebijakan penyesuaian harga energi, seperti kenaikan harga Pertamax.

Ia juga menyebut fluktuasi nilai tukar rupiah dan harga minyak mentah global turut membatasi kemampuan pelaku usaha menyerap kenaikan biaya operasional.

Hal ini berpotensi mendorong kenaikan harga jual produk.

Penurunan di Berbagai Kelompok Komoditas

Survei BI mencatat penurunan kinerja pada sejumlah kelompok komoditas.

>>> Pemerintah Susun RPPEM Nasional untuk Perkuat Tata Kelola Mangrove

Kelompok Makanan, Minuman dan Tembakau terkontraksi 4,0% (yoy), diikuti Bahan Bakar Kendaraan Bermotor yang turun 2,2% (yoy).

Penurunan paling tajam terjadi pada Kelompok Peralatan Informasi dan Komunikasi yang merosot hingga 17,5% (yoy).

Meski demikian, David Sumual memperkirakan momentum tahun ajaran baru sekolah dan penyaluran bantuan sosial pemerintah dapat menjadi bantalan bagi konsumsi masyarakat.

Pertumbuhan ekonomi diperkirakan melandai setelah efek musiman Ramadan dan Idulfitri.

Optimisme jangka menengah tercermin dari Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) BI yang naik menjadi 138,3 untuk Juli 2026 dan 149,4 untuk Oktober 2026.

>>> Pemain Timnas Jerman Patungan Sewa Bus untuk 600 Suporter

Peningkatan ini didorong persiapan tahun ajaran baru dan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal.