Investor Domestik Minati Reksadana Berbasis Dolar AS
Investor domestik terus menunjukkan minat terhadap reksadana berbasis dolar Amerika Serikat (AS) di tengah pelemahan rupiah dan penguatan indeks dolar AS (DXY).
Pada Kamis (11/6/2026), indeks dolar AS berada di level 100,0 atau menguat 1,75 persen secara year to date (ytd).
>>> BEI Dorong Perusahaan Perkuat Tata Kelola Internal Jelang IPO
Direktur Batavia Prosperindo Aset Manajemen, Eri Kusnadi, mengatakan prospek reksadana USD sangat tergantung pada jenis aset yang membentuk portofolionya.
Menurutnya, reksadana berbasis saham USD dipengaruhi oleh kinerja saham negara tujuan, sedangkan reksadana obligasi lebih terpengaruh oleh suku bunga The Fed.
Reksadana pasar uang USD juga memiliki keterkaitan erat dengan arah kebijakan suku bunga AS. Fluktuasi performa ke depan dipastikan bervariasi mengikuti komposisi portofolio setiap produk.
Eri menambahkan bahwa jika The Fed menunda penurunan suku bunga atau menaikkan, obligasi akan terkoreksi.
Sementara itu, saham tergantung pada kenaikan harga, dan pasar uang yang berisi time deposit cenderung aman.
>>> Museum MACAN Buka Lima Pameran Seni Baru Bertajuk Where Are We in Time
Pihak manajemen menekankan pentingnya pemahaman investor mengenai esensi reksadana USD sebagai alat pelindung nilai melalui diversifikasi aset.
"Sebenarnya reksadana USD itu utamanya untuk diversifikasi aset. Ada saham luar negeri, ada instrumen domestik, ada pasar uang.
Jadi bukan karena rupiah melemah atau menguat," ungkap Eri.
Masyarakat yang membutuhkan penempatan dana pada instrumen global diimbau untuk langsung memulai investasi tanpa perlu menunggu nilai tukar rupiah menguat.
Berdasarkan data Indovesta Utama per 8 Juni 2026, sejumlah global fund berbasis USD dengan underlying asset saham luar negeri mencatatkan imbal hasil positif dua digit sepanjang tahun ini.
>>> Timnas Indonesia U-19 Hadapi Australia di Semifinal Piala AFF 2026
Daftar Reksadana USD dengan Imbal Hasil Tertinggi
Panin Global Sharia Equity Fund mencatat imbal hasil 47,19% ytd, disusul Mandiri Asia Sharia Equity Dollar Kelas B sebesar 38,19%, Mandiri Asia Sharia Equity Dollar Kelas A sebesar 36,80%, dan Batavia Technology Sharia Equity USD sebesar 21,51%.
Update Terbaru
Michigan Left: Desain Persimpangan Unik yang Kurangi Kecelakaan hingga 60 Persen
Senin / 27-07-2026, 00:00 WIB
Max Verstappen Peringkat Kedua di Hungaria, Kritik Regulasi Mesin F1 2026
Minggu / 26-07-2026, 23:56 WIB
Mantan Juara Jeopardy Courtney Shah Meninggal di Usia 52 Tahun
Minggu / 26-07-2026, 23:56 WIB
Xbox Hapus Tiga Game Indie dari Perpustakaan Pemain Akibat Sengketa Penerbit
Minggu / 26-07-2026, 23:56 WIB
Deretan Game PS1 Paling Brutal: Uji Nyali Selesaikan Sampai Tamat
Minggu / 26-07-2026, 23:49 WIB
Di JF3, Hartono Gan Tampilkan Koleksi 2027 untuk Konsumsi Bijak
Minggu / 26-07-2026, 23:49 WIB
TikTok Creator Rebecca Luna Meninggal di Usia 49 Tahun Lewat Bantuan Medis
Minggu / 26-07-2026, 23:49 WIB
Sanders dan Ocasio-Cortez Dukung Abdul El-Sayed di Primer Michigan
Minggu / 26-07-2026, 23:42 WIB
Pengadilan Banding Blokir Perintah Trump yang Batasi Pemilu Surat
Minggu / 26-07-2026, 23:42 WIB
India Kembali ke Puncak Ranking T20I ICC Usai Kalahkan Zimbabwe
Minggu / 26-07-2026, 23:42 WIB
India Pilih Bat First di T20I Ketiga Lawan Zimbabwe, Incar Sapu Bersih
Minggu / 26-07-2026, 23:42 WIB
Nottingham Forest Uji Coba Lawan Vitoria Guimaraes di Portugal
Minggu / 26-07-2026, 23:35 WIB
Iran Panggil Kuasa Usaha Ukraina Terkait Serangan Kapal di Laut Kaspia
Minggu / 26-07-2026, 23:35 WIB
Shark Week 2026 Hadirkan 20 Spesial Baru, Ekspedisi Global, dan Kolaborasi K-Pop
Minggu / 26-07-2026, 23:35 WIB







