Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,28% ke level 5.886 pada perdagangan Kamis (11/6/2026).

Berdasarkan data Bloomberg, pelemahan ini dipicu oleh tekanan pada saham PT Amman Mineral Tbk (AMMN) dan sejumlah saham barang baku lainnya.

>>> XLSmart Targetkan Bisnis Enterprise Sumbang 20 Persen Pendapatan

IHSG bergerak dalam rentang 6.010 hingga 5.784 sepanjang sesi perdagangan.

Nilai transaksi tercatat Rp22,27 triliun dengan volume 33,64 miliar saham dan frekuensi 2,37 juta kali.

Sebanyak 265 saham menguat, 419 saham melemah, dan 131 saham stagnan.

Sektor Barang Baku dan Energi Tertekan

Sektor barang baku menjadi pemberat utama dengan penurunan 4,26%, diikuti sektor energi yang turun 2,12%.

Sektor transportasi juga melemah 1,41%, sementara sektor keuangan berhasil menguat 1,36%.

Saham-saham big caps dengan bobot besar terhadap indeks menjadi penekan utama IHSG.

AMMN mengurangi indeks sebesar 7,63 poin, diikuti BREN (6,67 poin), BRPT (6,22 poin), DSSA (5,32 poin), dan MDKA (5,01 poin).

Saham barang baku lain seperti ARCI turun 10,3%, INCO melemah 6,15%, dan TINS turun 5,9%.

Dari saham LQ45, HRTA drop 13,9%, MBMA turun 5,08%, dan ADMR melemah 4,87%.

>>> Timnas Indonesia U-19 Berpeluang Duetkan Baker Bersaudara Lawan Australia

Saham INKP turun 4,74%, SMGR melemah 4,62%, dan PTBA drop 4,01%.

Sentimen Global dan Domestik

Analis Phintraco Sekuritas menyebut pelemahan IHSG dipicu kenaikan harga minyak, pelemahan harga emas, dan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.

Kondisi ini mendorong aksi profit taking setelah indeks menguat signifikan dua hari berturut-turut.

Rupiah di pasar spot melemah 0,22% ke Rp17.993 per dolar AS, turut membayangi IHSG.

Secara teknikal, MACD berpotensi membentuk golden cross dan IHSG ditutup di atas MA5 dan MA10, sehingga masih berpeluang menguji level 5.900–5.950.

Panin Sekuritas menambahkan sentimen risk-off masih berlanjut akibat tensi geopolitik Timur Tengah, pelemahan harga komoditas, dan outflow dana asing.

Penjualan ritel Indonesia per April 2026 mengalami kontraksi -3,7% YoY, kontraksi terdalam sejak Mei 2023.

Pasar juga memantau perkembangan Timur Tengah dan data ekonomi AS untuk prospek kebijakan The Fed.

>>> Presiden Prabowo Batal Temui Kepala Badan Gizi Nasional, Jadwal Diundur

Militer AS menyatakan telah menyelesaikan serangan terbaru terhadap Iran, meningkatkan harapan negosiasi damai dapat dilanjutkan.