Counterpoint mencatat salah satu pemicu penurunan performa Qualcomm adalah momentum peluncuran seri Galaxy S26 yang lebih lambat dari generasi pendahulunya.

Lini flagship teranyar dari Samsung tersebut juga mulai membagi dapurnya dengan menggunakan prosesor Exynos 2600 pada sebagian modelnya.

Keputusan tersebut secara otomatis memangkas porsi dan kontribusi prosesor Snapdragon pada lini ponsel premium milik Samsung.

Tekanan bagi Qualcomm diperparah oleh lesunya penjualan chip Snapdragon seri 4 dan seri 6 yang mengotori pasar entry-level serta menengah.

Kondisi kontras justru ditunjukkan oleh Apple, Samsung, dan Unisoc yang sukses membukukan pertumbuhan pengiriman pada triwulan awal ini.

Komponen pemrosesan milik iPhone, Apple Bionic, kini sukses mengamankan porsi pangsa pasar sebesar 19 persen secara global.

>>> XLSMART dan Komdigi Luncurkan Fitur DigiHer untuk Perempuan Indonesia

Pencapaian tersebut meningkat dari torehan sebelumnya yang berada di angka 15 persen berkat tingginya permintaan terhadap iPhone 17.

Kehadiran iPhone 17e yang mengusung chip Apple A19 juga ikut memberikan kontribusi besar karena volume penjualannya melampaui iPhone 16e.

Samsung juga memetik hasil positif melalui optimalisasi penggunaan lini prosesor mandiri mereka, Exynos, pada ekosistem perangkat terbarunya.

Selain menyertakan Exynos 2600 untuk kasta tertinggi, pabrikan Korea Selatan ini juga memasang Exynos 1680 pada Galaxy A57 dan Exynos 1480 untuk Galaxy A37.

Langkah mandiri tersebut berhasil mendongkrak porsi dan eksistensi sirkuit Exynos di kancah persaingan komponen global.

Peningkatan volume pengiriman pada awal tahun ini juga berhasil dirasakan oleh produsen semikonduktor asal China, Unisoc.

Melalui data Counterpoint, tipe T7250 menjadi opsi populer untuk perangkat 4G, khususnya pada jajaran model ponsel besutan Redmi.