Ahli Ungkap Urutan Makan yang Tepat untuk Cegah Gula Darah Naik
Tren mengatur urutan konsumsi makanan atau food sequencing tengah ramai diperbincangkan di media sosial. Para ahli gizi menyebut bahwa cara ini dapat memengaruhi respons gula darah tubuh.
"Studi menunjukkan bahwa urutan makanan yang dimakan selama makan dapat memengaruhi kadar gula darah setelah makan," kata ahli gizi Grace Phelan, M.
>>> Studi: Ibu Hamil Jarang Bergerak Berisiko Komplikasi Dua Kali Lipat
S. , seperti dikutip dari Eating Well.
Penelitian menunjukkan bahwa mengonsumsi sayuran terlebih dahulu, diikuti protein dan lemak, kemudian karbohidrat di akhir dapat membantu mengurangi lonjakan gula darah.
Hal ini dibandingkan dengan mengonsumsi karbohidrat terlebih dahulu.
Mulailah dengan Sayuran
Sayuran yang tinggi serat menjadi pilihan terbaik untuk dimakan pertama kali. Saat makan, dahulukan mengunyah sayuran sebelum nasi atau lauk.
"Mengonsumsi sayur di awal makan dapat membantu mengatur gula darah dengan menciptakan peningkatan glukosa yang lebih lambat dan bertahap," jelas Phelan.
Konsumsi Protein dan Lemak
Setelah sayuran habis, lanjutkan ke komponen protein dan lemak seperti ayam, ikan, tahu, telur, atau keju.
Protein dan lemak memperlambat pengosongan lambung sehingga glukosa dari karbohidrat yang akan dimakan nanti masuk ke aliran darah secara bertahap.
>>> Kemenhub Hitung Dampak Kenaikan Harga Pertamax pada Sektor Transportasi
Makanan ini juga merangsang hormon GLP-1 yang meningkatkan sekresi insulin dan memperlambat pencernaan.
Hormon yang sama ditiru oleh obat-obatan seperti Ozempic dan Wegovy, sehingga trik ini juga membantu menekan nafsu makan.
Akhiri dengan Karbohidrat
Makanan kaya karbohidrat seperti roti, nasi, pasta, kentang, dan buah dikonsumsi paling akhir. Serat, protein, dan lemak yang telah dimakan sebelumnya bertindak sebagai penyeimbang.
Sebuah studi menemukan bahwa penderita pradiabetes yang mengonsumsi protein dan sayuran sebelum karbohidrat mengalami penurunan lonjakan glukosa darah setelah makan hingga 40%.
Strategi ini juga bermanfaat untuk kondisi terkait resistensi insulin seperti sindrom metabolik dan penyakit kardiovaskular.
Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa urutan makan bukanlah faktor utama penentu kesehatan metabolik.
>>> Kemdiktisaintek Buka Sertifikasi Dosen 2026, Fokus pada Produktivitas dan Integritas
Kualitas makanan secara keseluruhan, jumlah kalori, aktivitas fisik, kualitas tidur, dan kondisi kesehatan individu tetap memiliki peran yang lebih besar.
Update Terbaru
Elon Musk Ungkap Rahasia Otak Mengingat Informasi Lebih Baik
Kamis / 11-06-2026, 18:08 WIB
Thailand Melaju ke Final Piala AFF U19 2026 Usai Cukur Kamboja 4-0
Kamis / 11-06-2026, 18:08 WIB
Timnas Indonesia Naik Peringkat FIFA Usai Tekuk Oman dan Mozambik
Kamis / 11-06-2026, 18:08 WIB
10 Karakter Antagonis yang Lebih Populer dari Tokoh Utama
Kamis / 11-06-2026, 18:08 WIB
KATSEYE Rayakan Kemenangan di AMA dan Bersiap Rilis Album Baru
Kamis / 11-06-2026, 18:06 WIB
Prabowo Minta Revisi Aturan Outsourcing, Hanya 4 Sektor yang Diizinkan
Kamis / 11-06-2026, 18:06 WIB
Suryacipta Swadaya Mulai Konstruksi Gedung Pusat Bisnis di Subang
Kamis / 11-06-2026, 18:06 WIB
Sinopsis Valerian and the City of a Thousand Planets di Bioskop Trans TV 11 Juni 2026
Kamis / 11-06-2026, 18:04 WIB
Investor Domestik Minati Reksadana Berbasis Dolar AS
Kamis / 11-06-2026, 18:04 WIB
BEI Dorong Perusahaan Perkuat Tata Kelola Internal Jelang IPO
Kamis / 11-06-2026, 18:04 WIB
Museum MACAN Buka Lima Pameran Seni Baru Bertajuk Where Are We in Time
Kamis / 11-06-2026, 18:04 WIB
Timnas Indonesia U-19 Hadapi Australia di Semifinal Piala AFF 2026
Kamis / 11-06-2026, 18:02 WIB
HBAT Catat Laba Bersih Rp2,7 Miliar Sepanjang 2025
Kamis / 11-06-2026, 18:01 WIB
Pemerintah Diminta Segera Salurkan Bansos Tunai Jaga Daya Beli Masyarakat
Kamis / 11-06-2026, 18:00 WIB






