IHSG Melemah ke Level 5.886 akibat Tekanan Saham Kapitalisasi Besar
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada perdagangan Kamis (11/6/2026). Penurunan ini menghentikan tren pemulihan yang sempat terjadi selama dua hari sebelumnya.
Berdasarkan data IDX Mobile, IHSG terpangkas 0,28 persen ke posisi 5.886,03. Padahal, indeks sempat menyentuh level tertinggi intraday di area 6.010,49.
>>> Timnas U19 Indonesia Incar Kemenangan Perdana Lawan Australia
Penyusutan nilai saham-saham berkapitalisasi besar menjadi pemicu utama yang menyeret indeks ke zona merah.
Saham BREN merosot 4,27 persen ke Rp4.040, BBRI melemah 1,04 persen ke Rp2.850, dan BMRI turun 0,23 persen ke Rp4.250.
Selain itu, BYAN menyusut 1,77 persen ke Rp9.700, dan AMMN terkoreksi 7,55 persen ke Rp3.060.
Di sisi lain, beberapa saham big caps justru menguat.
BBCA naik 3,10 persen ke Rp5.825, DCII melesat 4,79 persen ke Rp188.775, MORA naik 5,42 persen ke Rp6.325, TLKM bertambah 2,14 persen ke Rp2.870, dan BBNI terangkat 1,45 persen ke Rp3.500.
Secara keseluruhan, sebanyak 282 saham bergerak menguat, 238 saham stagnan, dan 439 saham lainnya berakhir di zona koreksi.
Pelemahan IHSG kali ini mematahkan akumulasi keuntungan yang diraih pada Selasa (9/6) saat indeks melonjak 7,57 persen, serta penutupan Rabu (10/6) yang menguat 2,71 persen.
>>> Saham Black Diamond Resources (COAL) Anjlok ARB Tiga Hari Beruntun
Posisi saat ini membuat IHSG terkoreksi 0,93 persen dalam sepekan dan merosot 31,93 persen secara year to date.
Pandangan Analis
Tim riset Sinarmas Sekuritas menilai bahwa situasi pasar saat ini mengindikasikan risiko besar telah terlewati.
Namun, tingkat kepercayaan investor domestik belum pulih seutuhnya dan investor asing masih melakukan aksi jual bersih.
"IHSG saat ini ada di awal fase 'Berharap' dalam siklus psikologi investor," tulis Sinarmas Sekuritas, Kamis (11/6/2026).
Pihak sekuritas menjelaskan bahwa setelah tekanan jual masif sejak awal tahun, pembalikan arah selama dua hari terakhir menjadi indikasi awal meredanya kepanikan pasar.
Nilai saham saat ini dinilai belum tinggi, dengan banyak saham berfundamental kokoh yang memiliki valuasi rendah.
>>> Iran dan AS Intensifkan Pembahasan Nota Kesepahaman
"Bagi investor jangka menengah-panjang fokuslah ke akumulasi bertahap di saham fundamental kuat, sambil pantau keadaan arus asing," tulis sekuritas.
Update Terbaru
Siswi SMAN 91 Jakarta Juara 1 Youth ESG Maritime Innovation Challenge 2026
Kamis / 11-06-2026, 18:09 WIB
Liang/Wang Hentikan Langkah Leo/Daniel di Australian Open 2026
Kamis / 11-06-2026, 18:09 WIB
Jadwal Bola Malam Ini 11 Juni 2026: Piala Dunia dan Uji Coba Internasional
Kamis / 11-06-2026, 18:09 WIB
Elon Musk Ungkap Rahasia Otak Mengingat Informasi Lebih Baik
Kamis / 11-06-2026, 18:08 WIB
Thailand Melaju ke Final Piala AFF U19 2026 Usai Cukur Kamboja 4-0
Kamis / 11-06-2026, 18:08 WIB
Timnas Indonesia Naik Peringkat FIFA Usai Tekuk Oman dan Mozambik
Kamis / 11-06-2026, 18:08 WIB
10 Karakter Antagonis yang Lebih Populer dari Tokoh Utama
Kamis / 11-06-2026, 18:08 WIB
KATSEYE Rayakan Kemenangan di AMA dan Bersiap Rilis Album Baru
Kamis / 11-06-2026, 18:06 WIB
Prabowo Minta Revisi Aturan Outsourcing, Hanya 4 Sektor yang Diizinkan
Kamis / 11-06-2026, 18:06 WIB
Suryacipta Swadaya Mulai Konstruksi Gedung Pusat Bisnis di Subang
Kamis / 11-06-2026, 18:06 WIB
Sinopsis Valerian and the City of a Thousand Planets di Bioskop Trans TV 11 Juni 2026
Kamis / 11-06-2026, 18:04 WIB
Investor Domestik Minati Reksadana Berbasis Dolar AS
Kamis / 11-06-2026, 18:04 WIB
BEI Dorong Perusahaan Perkuat Tata Kelola Internal Jelang IPO
Kamis / 11-06-2026, 18:04 WIB
Museum MACAN Buka Lima Pameran Seni Baru Bertajuk Where Are We in Time
Kamis / 11-06-2026, 18:04 WIB






