Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS) memasukkan BYD ke dalam daftar hitam perusahaan yang dituduh mendukung militer China.

Kebijakan ini tertuang dalam dokumen resmi yang diperbarui Pentagon mengenai entitas militer China yang beroperasi di wilayah AS.

>>> Triumph Luncurkan Scrambler 400 XC dan Tiger 900 Alpine Edition di Indonesia

Selain BYD, daftar tersebut juga mencakup Alibaba, Baidu, WuXi AppTec, TP-Link, produsen baterai EVE Energy, serta perusahaan teknologi lidar Hesai dan Robosense.

Pemerintah AS menilai kehadiran perusahaan-perusahaan ini sebagai ancaman terhadap keamanan nasional.

Tuduhan dan Bantahan

Dalam dokumen itu, BYD dituding memiliki afiliasi dengan Komisi Pengawasan dan Administrasi Aset Milik Negara China (SASAC) serta Kementerian Industri dan Teknologi Informasi China (MIIT).

BYD disebut sebagai kontributor fusi militer-sipil terhadap basis industri pertahanan China.

>>> Bos BYD Targetkan Kalahkan Toyota dalam Lima Tahun

Menanggapi tuduhan tersebut, BYD membantah melalui keterbukaan informasi di Bursa Efek Hong Kong pada Selasa (9/6/2026).

Manajemen BYD menegaskan bahwa perusahaan bukan bagian dari militer China maupun kontributor fusi militer-sipil.

BYD juga menjelaskan bahwa status daftar hitam ini bukan sanksi langsung dan tidak akan mengganggu bisnis global mereka.

>>> Honda Super One Meluncur di GIIAS 2026, Harga Rp 320 Juta dan Kuota 100 Unit

Pembatasan pengadaan pemerintah AS terkait daftar tersebut tidak berdampak pada bisnis BYD, dan tidak membatasi transaksi sekuritas perusahaan.