Fase kedua diproyeksikan berjalan selektif. Kalkulasi dampak bunga tinggi terhadap pertumbuhan ekonomi, laba emiten, kredit, dan valuasi saham akan menjadi pertimbangan.

Jika rupiah bertahan di bawah Rp18.000, CDS menurun, dan yield SBN stabil, IHSG dapat melanjutkan pemulihan. Sebaliknya, tekanan dapat muncul kembali jika rupiah melemah.

Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan penyesuaian ini merupakan langkah pre-emptive. Tujuannya memastikan inflasi tahun 2026 dan 2027 tetap terkendali dalam sasaran 2,5±1 persen.

Pergerakan rupiah terpantau melemah melebihi proyeksi awal berdasarkan evaluasi pasca-RDG 18-19 Mei 2026. Kombinasi permintaan valas tinggi, ketidakpastian global, dan capital outflow menjadi pemicu.

>>> XLSMART dan Komdigi Luncurkan DigiHer untuk 2,4 Juta Perempuan

BI memandang penambahan insentif pada operasi moneter dan peningkatan imbal hasil sebagai solusi krusial. Kebijakan ini juga ditujukan untuk menarik aliran masuk investasi portofolio asing.