Analis Peringatkan Potensi Musim Dingin Kripto Bayangi Bitcoin
Harga Bitcoin kembali mengalami tekanan berat setelah sempat merosot di bawah US$ 60.000 pada pekan lalu.
Para analis memperingatkan potensi ancaman fenomena musim dingin kripto (crypto winter) akibat kerentanan struktural pasar.
>>> Praz Teguh Diperiksa Polda Metro Jaya Terkait Kasus Hanania Group
Koreksi tajam ini menjadi performa mingguan terburuk sejak runtuhnya bursa FTX pada akhir 2022.
Penurunan dipicu oleh arus keluar dana dari ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat sebesar US$ 5,5 miliar selama 13 hari berturut-turut.
Pelemahan indikator teknikal dan pergeseran ekspektasi suku bunga The Federal Reserve turut memperburuk kondisi.
Pasar juga diguncang aksi penjualan kecil kepemilikan Bitcoin oleh Strategy Inc., perusahaan milik Michael Saylor.
Namun, situasi sempat mereda setelah perusahaan melakukan pembelian kembali senilai US$ 101 juta.
Bitcoin kini terkonfirmasi menembus ke bawah 200-week moving average, yang biasanya menjadi acuan titik dukungan pasar.
Paul Howard, Direktur Senior di Wincent, mengatakan penembusan di bawah level tersebut menjadi konfirmasi penting bahwa pasar mungkin telah memasuki fase bearish.
>>> MUI Desak Pemerintah dan DPR Segera Rumuskan Regulasi Tegas Terkait LGBT
Howard menambahkan bahwa dengan volatilitas yang tetap tinggi, reli pemulihan harga kemungkinan tidak akan bertahan lama.
Tekanan terhadap Bitcoin diperparah oleh hilangnya korelasi positif dengan saham Amerika Serikat.
Modal investor kini lebih banyak beralih ke sektor teknologi dan kecerdasan buatan.
Hal ini terjadi di tengah ketidakpastian geopolitik global dan penguatan data tenaga kerja AS yang mengubah ekspektasi pasar dari pemangkasan menjadi potensi kenaikan suku bunga.
Griffin Ardern, salah satu pendiri Primal Fund, menyatakan yakin masih ada ruang untuk penurunan lebih dalam.
Kekhawatiran mengenai stabilitas likuiditas juga disampaikan oleh Hayden Hughes dari Tokenize Capital.
>>> Kamar Mandi Bau? Ini Penyebab dan Cara Mengatasi Saluran Air yang Semburat Aroma Tak Sedap
Hughes mengingatkan adanya risiko sistemik jika perusahaan pemegang cadangan kripto besar terpaksa melakukan aksi jual massal saat harga saham mereka jatuh.
Update Terbaru
Satpam Tewas Terborgol di Waduk Jatiluhur, Polisi Selidiki CCTV dan Autopsi
Senin / 27-07-2026, 02:29 WIB
Kaesang Maju ke Senayan: Jokowi Baca Celah Penurunan Kepuasan Publik ke Prabowo
Senin / 27-07-2026, 02:28 WIB
Ganjar: Kaesang Berhak Maju dari Dapil V Jateng, Apalagi Asli Solo
Senin / 27-07-2026, 02:28 WIB
Strategi Politik Jokowi: Karpet Merah untuk Gibran dan Transformasi Kaesang
Senin / 27-07-2026, 02:28 WIB
Buffalo Bills Hadapi Ujian Berat di Laga Pembuka Melawan Houston Texans
Senin / 27-07-2026, 02:14 WIB
PGDX 2026 Siap Digelar Akhir Juli di SMX Convention Center Manila
Senin / 27-07-2026, 02:07 WIB
GM Raup 70 Sen dari Setiap Dolar Langganan, Hanya 4 Sen dari Penjualan Mobil
Senin / 27-07-2026, 02:07 WIB
Jimmie Johnson Kembali ke No. 48 untuk Balap Perpisahan di Daytona 500 2027
Senin / 27-07-2026, 02:01 WIB
Utah Talons Kalahkan Chicago Bandits 2-1 di Laga Pembuka Final AUSL
Senin / 27-07-2026, 02:01 WIB
Lucas Glover Protes Teknik AimPoint dengan Melepas Sepatu di 3M Open
Senin / 27-07-2026, 02:00 WIB
Jalen Brunson Masuk Klub Tanpa Hambatan, Michael Porter Jr. Harus Diperiksa
Senin / 27-07-2026, 02:00 WIB
Pelaku Serangan Pride Berlin Tewas dalam Baku Tembak dengan Polisi
Senin / 27-07-2026, 01:56 WIB
Percakapan Terakhir Oliver Tree dengan Sang Ibu: Antusiasme untuk Perjalanan Helikopter yang Fatal
Senin / 27-07-2026, 01:56 WIB
Profesor Sejarah Temukan Harta Karun Emas Zaman Besi Terbesar di Inggris
Senin / 27-07-2026, 01:56 WIB







