Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah militer Amerika Serikat melancarkan serangan udara ke berbagai wilayah Iran.

Serangan ini merupakan respons atas jatuhnya helikopter Apache di dekat Selat Hormuz awal pekan ini.

>>> Pemkot Bogor Rekrut 848 Anak Putus Sekolah dalam Dua Minggu

Presiden AS Donald Trump mengancam akan melanjutkan serangan besar-besaran.

Ancaman itu langsung memicu lonjakan harga minyak mentah dunia hingga hampir US$ 3 per barel pada perdagangan Asia, Kamis (11/6/2026).

Operasi militer Washington menyasar sejumlah infrastruktur vital Iran. Targetnya meliputi fasilitas pengawasan militer, sistem komunikasi, hingga lokasi pertahanan udara di berbagai daerah.

Gedung Putih menegaskan bahwa rangkaian pemboman ini baru akan dihentikan secara permanen apabila Teheran bersedia menandatangani kesepakatan damai baru.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan bahwa aksi militer ini menjadi instrumen penekan utama agar Iran segera melunak di meja perundingan.

>>> PT Saka Energi Indonesia Kantongi Izin Pengembangan Lapangan Ronggolawe

"Jika kami harus bernegosiasi dengan bom, maka kami akan bernegosiasi dengan bom," kata Hegseth.

Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) langsung membalas dengan menggempur 18 target militer AS di Kuwait dan Bahrain.

Sasaran termasuk markas Armada Kelima Angkatan Laut AS.

Teheran juga mengonfirmasi penembakan 12 rudal balistik ke Pangkalan Udara Al-Azraq di Yordania selama dua malam berturut-turut. Pertahanan udara Kuwait dan Bahrain mengaku berhasil mencegat sejumlah serangan tersebut.

Konflik yang telah berlangsung selama empat bulan ini telah melumpuhkan sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) global.

>>> Toyota Siapkan Strategi Khusus Hadapi Tekanan Ekonomi Nasional

Pertempuran Israel dan Hizbullah di Lebanon selatan juga menewaskan 13 orang pada Rabu (10/6/2026).