Konversi sepeda motor berbahan bakar bensin menjadi motor listrik dinilai memiliki potensi besar untuk berkembang di Indonesia.

Hal ini didukung oleh ketersediaan suku cadang basis kendaraan konvensional yang melimpah.

>>> Nadeo Argawinata Catat Menit Bermain Terbanyak di Super League 2025-2026

Pemilik bengkel motor listrik Dolland Motor Electric di Bekasi, Jawa Barat, Abdullah, menjelaskan keuntungan utama motor konversi.

Keunggulan itu terletak pada penggunaan basis kendaraan pabrikan Jepang yang sudah lama beredar masif di pasar domestik.

"Motor Jepang yang kita pakai kan seperti itu. Motor-motor Jepang di Indonesia punya ketersediaan spare part yang melimpah.

Mulai dari body part sampai perintilan yang sulit dicari sekalipun," kata Abdullah.

Kondisi ini membuat pemilik kendaraan tidak perlu menunggu lama untuk mendapatkan komponen pengganti nonkelistrikan apabila terjadi kerusakan.

"Kalau di motor listrik, komponen yang susah dicari bisa sampai satu bulan," ujar Abdullah.

Jaringan suku cadang merek-merek besar yang telah mapan selama puluhan tahun menjadi jaminan kelancaran perawatan.

"Tapi kalau di motor-motor Jepang, seperti Honda, Yamaha, Kawasaki, dan lain-lain, sesulit apa pun biasanya paling lama seminggu sudah ketemu suku cadangnya," kata Abdullah.

Langkah mengubah sistem penggerak ini juga dianggap mampu mempercepat adopsi teknologi ramah lingkungan. Masyarakat tidak perlu membeli unit kendaraan baru untuk beralih ke motor listrik.

>>> Harga Emas Antam Per Gram Turun Rp 24.000 pada 11 Juni 2026

Kendati demikian, efektivitas konversi dinilai tetap memerlukan dukungan sistem pengelolaan baterai yang terstruktur. "Jadi, kalau konversi sebenarnya bagus untuk dijalankan.

Tapi, sistem baterainya itu jangan dilepas begitu saja. Saat ini kan sudah dikasih baterai, lalu terserah pengguna mau diapakan baterainya," kata Abdullah.