BNI Jaga Fungsi Intermediasi Setelah BI Naikkan Suku Bunga
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI berkomitmen mempertahankan fungsi intermediasi secara produktif demi menyokong sektor riil.
Hal ini menyusul kebijakan Bank Indonesia yang menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,5 persen pada Kamis (11/6/2026).
>>> IHSG Dibuka Menguat ke Level 5.922 pada 11 Juni 2026
Manajemen BNI menilai langkah penyesuaian BI Rate tersebut sebagai keputusan yang tepat. Keputusan itu dinilai krusial untuk menjaga stabilitas makroekonomi nasional, mengendalikan nilai tukar rupiah, serta inflasi.
Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo menjelaskan bahwa kepastian stabilitas ekonomi makro merupakan landasan utama bagi industri perbankan nasional untuk terus bergerak maju.
"Kami memandang kenaikan BI Rate sebagai langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional dan memperkuat kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia," ujar Okki.
Pihak perbankan kini memiliki keleluasaan dalam mengelola penyaluran pembiayaan secara hati-hati di tengah kondisi pasar yang lebih terkendali.
Meski demikian, BNI tetap mewaspadai pengaruh rambatan kenaikan suku bunga terhadap sektor usaha yang sensitif terhadap pergeseran biaya dana.
Langkah mitigasi dilakukan perusahaan dengan mematangkan tata kelola serta memantau manajemen risiko likuiditas secara berkala. Hal ini demi mempertahankan kualitas aset.
>>> Penyebab GoPay Pinjam Ditolak dan Cara Mengatasinya agar Disetujui
Okki menambahkan, "Kami terus memperkuat governance, manajemen risiko, dan kapabilitas digital agar tetap mampu memberikan layanan terbaik kepada nasabah sekaligus menjaga pertumbuhan bisnis yang sehat dan berkelanjutan."
Dengan fondasi yang kuat, BNI optimistis dapat terus mendukung sektor riil dan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Sebelumnya, Bank Indonesia secara mengejutkan mengumumkan kenaikan BI Rate sebesar 25 bps menjadi 5,5 persen.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan langkah tersebut diambil menyusul koreksi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang melampaui proyeksi awal bank sentral.
Menurut Perry, Bank Indonesia melakukan evaluasi pelaksanaan kebijakan setiap pekan. "Dalam berbagai evaluasi hari ini kita melihat lho kok pelemahan rupiah melebihi yang kita proyeksikan dulu," katanya.
Pada perdagangan Kamis pagi, nilai tukar rupiah di pasar luar negeri tercatat sempat melemah 0,15 persen ke level Rp17.955 per dolar AS.
>>> IATA Pertimbangkan Kunci Bagasi Kabin Saat Darurat karena Penumpang Utamakan Barang
Pelemahan ini dipicu oleh ketegangan geopolitik global.
Update Terbaru
Kemenhaj Jabar Selidiki Dugaan Pelanggaran Dam dan Badal Haji
Kamis / 11-06-2026, 10:48 WIB
Roy Keane Akui Sudah Damai dengan Bruno Fernandes Lewat Percakapan Daring
Kamis / 11-06-2026, 10:48 WIB
Kemenhaj Jabar Selidiki Dugaan Pelanggaran Dam dan Badal Haji
Kamis / 11-06-2026, 10:48 WIB
DPR Mulai Bahas RUU Indonesia Financial Center pada Juli 2026
Kamis / 11-06-2026, 10:46 WIB
Khutbah Jumat, 12 Juni 2026: Menyambut 1 Muharram 1448 H di Penghujung Zulhijah
Kamis / 11-06-2026, 10:46 WIB
PT Multi Makmur Lemindo Tbk Gelar RUPS Bahas Ganti Nama dan Rights Issue
Kamis / 11-06-2026, 10:46 WIB
UBS Sekuritas Indonesia Naikkan Target Harga Saham BRPT Jadi Rp2.700
Kamis / 11-06-2026, 10:46 WIB
Lulusan Jurusan Ini Terancam AI, Nomor 2 Banyak Diburu Anak Muda
Kamis / 11-06-2026, 10:44 WIB
Harga Buyback Emas Antam 11 Juni 2026 Anjlok Jadi Rp2.395.000 Per Gram
Kamis / 11-06-2026, 10:44 WIB
PT Esa Medika Mandiri Perkuat Jaringan Distribusi dan Manufaktur Alat Kesehatan
Kamis / 11-06-2026, 10:44 WIB
Apakah Film Dosa: Penebusan atau Pengampunan (2026) Bakal Lanjut Season 2?
Kamis / 11-06-2026, 10:43 WIB
Daftar Rating Program TV Nasional per Kamis, 11 Juni 2026 Dikuasai Sinetron dan Acara Hiburan
Kamis / 11-06-2026, 10:41 WIB
Jadwal Pembukaan Piala Dunia 2026 di Meksiko, Kanada, dan AS
Kamis / 11-06-2026, 10:41 WIB
BIGBANG Umumkan Tur Dunia Peringati 20 Tahun Debut
Kamis / 11-06-2026, 10:41 WIB






