Harga berbagai logam dasar seperti aluminium, tembaga, nikel, dan seng mengalami penurunan signifikan dalam perdagangan baru-baru ini.

Pelemahan ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta proyeksi kenaikan suku bunga acuan di Amerika Serikat (AS) yang menekan prospek permintaan komoditas global.

>>> Kanada Nyatakan Kesiapan Jadi Tuan Rumah Piala Dunia 2026

Kondisi pasar semakin memburuk setelah bursa saham berguguran pasca aksi militer pasukan AS yang menyerang Iran.

Konflik memanas setelah Presiden AS Donald Trump menuduh Teheran menembak jatuh helikopter militer AS dan bersumpah akan meluncurkan serangan balasan.

Eskalasi perang yang terus berlanjut berpotensi memicu lonjakan inflasi lebih tinggi.

Hal ini memperbesar peluang penerapan suku bunga ketat yang dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia serta mengoreksi tingkat permintaan material industri.

Meskipun demikian, penurunan harga komoditas sempat tertahan setelah rilis data ekonomi AS bulan Mei menunjukkan indeks harga konsumen inti naik lebih rendah dari proyeksi.

Namun, tingkat inflasi tahunan di AS tercatat masih melaju dalam tingkat tercepat selama lebih dari tiga tahun terakhir.

Pergerakan pasar mencatat harga tembaga merosot sebesar 0,7%, sementara aluminium, nikel, dan seng secara kompak mengalami penurunan nilai melebihi 1%.

Kepala riset Chaos Ternary Futures Co, Li Xuezhi, menjelaskan bahwa fokus pelaku pasar saat ini tertuju pada pengetatan likuiditas global.

>>> Ketegangan Geopolitik Ubah Pola Investasi, Obligasi Tak Lagi Aman

Situasi ini terjadi setelah rilis data ketenagakerjaan AS pekan lalu menunjukkan hasil yang kuat, sehingga memberikan dampak negatif bagi aset berisiko termasuk emas, perak, hingga material industri.

Di samping tekanan jangka pendek, proyeksi permintaan logam untuk jangka panjang dinilai masih cukup aman.