Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menegaskan kesiapan negaranya untuk meluncurkan serangan militer yang lebih keras terhadap Iran.

Langkah ini dijadikan alat tekanan diplomasi agar pemerintah Iran bersedia menandatangani kesepakatan baru dengan Washington.

>>> 5 Duel David vs Goliath di Fase Grup Piala Dunia 2026

Pernyataan tersebut disampaikan Trump di Washington pada Rabu (10/6/2026).

"Kami telah menyerang mereka dengan keras kemarin, dan kami akan kembali melakukan serangan yang lebih keras hari ini," ujarnya seperti dilansir dari Investor Daily.

Ketegangan bilateral di Timur Tengah mencapai titik didih setelah militer AS melancarkan serangan udara terhadap Iran pada Selasa (9/6/2026).

Menurut Komando Pusat AS, operasi ofensif itu merupakan respons langsung atas jatuhnya helikopter Apache milik Angkatan Darat mereka.

Melalui platform Truth Social, Trump mengklaim militer Iran dalam kondisi berantakan. "Sebagian besar kekuatan mereka, seperti Angkatan Laut dan Angkatan Udara, sudah tidak ada lagi.

>>> AS dan China Bersaing Cari Air di Kutub Selatan Bulan

Mereka sudah kalah telak. Iran hanya banyak bicara namun tidak melakukan tindakan nyata," tulisnya.

Pernyataan keras Trump langsung mengguncang pasar keuangan dan komoditas energi global.

Harga minyak mentah AS melonjak hampir 2 persen ke level US$ 89,72 per barel, sementara minyak Brent naik 1,3 persen menjadi US$ 92,74 per barel.

Indeks Dow Jones Industrial Average merosot 600 poin.

Di sisi lain, perwakilan Iran belum mengakui tanggung jawab atas insiden jatuhnya helikopter militer AS.

>>> IHSG Melonjak 2,71 Persen, Analis Rekomendasikan Saham ACES, INCO, dan TLKM

Melalui media negara IRIB, Teheran melaporkan tidak ada operasi militer ofensif di kawasan selat strategis dalam 24 jam terakhir.