Paspor Afghanistan menempati peringkat terakhir dari 197 negara dan wilayah dalam Indeks Paspor Global 2026 yang diterbitkan oleh Global Citizen Solutions.

Indeks tersebut memberikan skor 23,10 dari 100 untuk Afghanistan, sementara Swedia memimpin dengan 96,05 poin, diikuti oleh Swiss, Finlandia, Jerman, dan Belanda.

>>> Kontroversi Candaan Ahmad Sahroni ke Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda: Ujian Etika dan Batas Humor Pejabat Publik di Ruang Digital

Negara-negara seperti Somalia, Sudan Selatan, Yaman, dan Suriah juga berada di peringkat bawah bersama Afghanistan.

Global Citizen Solutions menyatakan bahwa kesenjangan antara skor tertinggi dan terendah semakin melebar di setiap edisi sejak 2021.

Swedia kini unggul 72,95 poin dari Afghanistan.

Faktor Penilaian Indeks

Indeks ini mengevaluasi paspor berdasarkan tiga elemen utama. Enhanced Mobility mencakup 50 persen skor, mengukur akses ke destinasi dan kualitasnya.

Investment Index bernilai 25 persen, meneliti kekuatan ekonomi dan kondisi bisnis. Quality of Living Index juga 25 persen, mencakup pembangunan, kebebasan, dan faktor lingkungan.

Henley Passport Index, yang memeringkat berdasarkan akses bebas visa, juga menempatkan Afghanistan di posisi terakhir. Pemegang paspor Afghanistan hanya dapat mengakses 24 destinasi tanpa visa sebelumnya.

Singapura memimpin peringkat tersebut dengan akses ke 192 destinasi.

Warga negara dengan paspor lemah sering menghadapi biaya lebih tinggi, persyaratan lebih ketat, dan waktu tunggu lebih lama saat mengajukan visa untuk perjalanan, studi, atau kerja di luar negeri.

Peringkat rendah ini mengikuti terbatasnya pengakuan diplomatik terhadap pemerintah di Kabul sejak Taliban mengambil alih kekuasaan pada Agustus 2021.

Rusia menjadi negara pertama yang mengakui pemerintah tersebut pada Juli 2025. Reuters melaporkan bahwa China, Uni Emirat Arab, Uzbekistan, dan Pakistan telah menunjuk duta besar untuk Kabul.