BYD Masuk Daftar Perusahaan Militer China Versi Pentagon
Pentagon Amerika Serikat baru saja memasukkan BYD dan Nio ke dalam daftar perusahaan yang dianggap memiliki hubungan dengan militer China.
Daftar ini merupakan pembaruan dari daftar serupa yang pernah dirilis sebelumnya.
>>> Texas Hampir Salip California dalam Penjualan Mobil Baru, Banyak yang Bayar Tunai
Secara total, ada 188 perusahaan yang masuk dalam daftar tersebut. Selain BYD dan Nio, beberapa nama besar seperti Alibaba, Baidu, dan WuXi AppTec juga turut dicantumkan.
Meski tidak langsung memicu sanksi, pencatatan ini bisa membuat perusahaan Amerika enggan bekerja sama dengan perusahaan yang masuk daftar.
Hal ini berpotensi mempersulit operasional mereka di Amerika Serikat.
BYD sendiri sudah beroperasi di AS, terutama di sektor bus listrik. Perusahaan asal China itu bahkan memiliki pabrik perakitan bus di California.
Namun, BYD tidak menjual mobil penumpangnya di pasar Amerika.
Menurut Pentagon, perusahaan seperti BYD masuk daftar karena memiliki afiliasi dengan Komisi Pengawasan Aset dan Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi China.
>>> Mazda CX-30 2027 Eropa Dapat Transmisi Manual dan Lampu Matrix LED
Namun, analis dari Nanyang Technological University, Stefanie Kam, menilai perusahaan mungkin masuk daftar karena berpartisipasi dalam program negara, bukan karena bukti jelas keterkaitan dengan militer.
BYD dengan tegas membantah memiliki hubungan dengan militer China. Perusahaan itu menyatakan bahwa pencantuman dalam daftar tersebut merugikan pencapaian pengembangan mereka di Amerika Serikat.
Sementara itu, Nio menyebut tidak akan terpengaruh karena tidak memiliki bisnis di AS.
Kedutaan Besar China di Washington mengecam daftar itu sebagai diskriminatif dan dianggap memperluas konsep keamanan nasional secara berlebihan.
Kedutaan menegaskan bahwa perusahaan China yang berbisnis di luar negeri selalu mematuhi hukum dan peraturan negara setempat.
>>> Sjafrie Sjamsoeddin Tinjau Proyek Mobil Nasional di Subang
Mereka mendesak AS untuk menghentikan praktik yang salah dan menciptakan lingkungan yang adil bagi perusahaan China.
Update Terbaru
Polisi Madison Tak Punya Rekaman Bodycam Saat Tembak Pria Tunawisma
Senin / 27-07-2026, 03:00 WIB
United Cajun Navy Bantah Klaim Nolan Wells Ditemukan Berpakaian Lengkap, Tuduh Crump Berbohong
Senin / 27-07-2026, 03:00 WIB
Suami Gendong Istri Terbalik ke IGD, Dokter Terkejut Ternyata Ini yang Terjadi
Senin / 27-07-2026, 03:00 WIB
Satpam Tewas Terborgol di Waduk Jatiluhur, Polisi Selidiki CCTV dan Autopsi
Senin / 27-07-2026, 02:29 WIB
Kaesang Maju ke Senayan: Jokowi Baca Celah Penurunan Kepuasan Publik ke Prabowo
Senin / 27-07-2026, 02:28 WIB
Ganjar: Kaesang Berhak Maju dari Dapil V Jateng, Apalagi Asli Solo
Senin / 27-07-2026, 02:28 WIB
Strategi Politik Jokowi: Karpet Merah untuk Gibran dan Transformasi Kaesang
Senin / 27-07-2026, 02:28 WIB
Buffalo Bills Hadapi Ujian Berat di Laga Pembuka Melawan Houston Texans
Senin / 27-07-2026, 02:14 WIB
PGDX 2026 Siap Digelar Akhir Juli di SMX Convention Center Manila
Senin / 27-07-2026, 02:07 WIB
GM Raup 70 Sen dari Setiap Dolar Langganan, Hanya 4 Sen dari Penjualan Mobil
Senin / 27-07-2026, 02:07 WIB
Jimmie Johnson Kembali ke No. 48 untuk Balap Perpisahan di Daytona 500 2027
Senin / 27-07-2026, 02:01 WIB
Utah Talons Kalahkan Chicago Bandits 2-1 di Laga Pembuka Final AUSL
Senin / 27-07-2026, 02:01 WIB
Lucas Glover Protes Teknik AimPoint dengan Melepas Sepatu di 3M Open
Senin / 27-07-2026, 02:00 WIB
Jalen Brunson Masuk Klub Tanpa Hambatan, Michael Porter Jr. Harus Diperiksa
Senin / 27-07-2026, 02:00 WIB







