"Dan ini di ekonomi anak-anak Gen Z memang bergantung hanya pada Allah gitu kan.

Ya ini deh, hari-hari minum es kopi susu, es kopi susu, terima nggak makan daripada nggak ngerokok sama nggak ngopi, ya kan?"

ucap Dilan Janiyar.

Mengenai pusat perbelanjaan yang tetap padat pengunjung di tengah himpitan ekonomi, hal itu dianalisis sebagai bentuk pengalihan masyarakat mencari hiburan dengan biaya terjangkau.

"Jadi kenapa ekonomi kita tuh lagi kayak gini parah-parahnya, tapi mal tuh tetap jaya?

Karena kebahagiaan-kebahagiaan yang bisa dibeli dengan harga murah itu mereka tuh pelariannya ke situ," ungkap Dilan Janiyar.

Fenomena konsumtif pada barang eceran bernilai puluhan ribu rupiah dipandang menjadi opsi untuk melepaskan tekanan psikologis akibat situasi ekonomi.

"Jadi rakyat tuh pada stres, eh mereka konsumtif secara harga ecerlah, harga-harga murah gitu yang bisa dibeli untuk kayak beli makanan kekinian yang Rp60 ribu satunya, beli matcha yang segelas Rp60 ribu, Rp70 ribu, ya kan," kata Dilan Janiyar.

>>> Jayamas Medica Industri Bagikan Dividen Tunai Rp110,4 Miliar

Kebiasaan konsumsi makanan serta minuman kekinian tersebut dinilai belum tentu memberikan dampak positif bagi kesehatan tubuh masyarakat.