Akibatnya, konsumsi Pertalite melampaui kuota 29,26 juta kiloliter sekitar 5%, dan sekitar 40% penghematan kotor menguap kembali," katanya.

Secara riil, Yayan menuturkan, dampak pengeluaran langsung terhadap kelompok masyarakat kelas menengah terbilang minim karena porsi konsumsi mereka didominasi oleh produk subsidi.

Namun, ancaman kelangkaan stok akibat jebolnya kuota justru menjadi risiko terbesar yang harus diantisipasi bagi sektor produktif.

"Rumah tangga kelas menengah (desil 4–5) hanya kehilangan Rp 3.400–5.700 per bulan secara langsung sekitar 0,1% dari pengeluaran mereka, karena sebagian besar BBM mereka memang sudah Pertalite.

Risiko nyata bagi mereka justru antrean dan kelangkaan jika kuota jebol.

>>> Steven Spielberg Rilis Film Disclosure Day Bertema Alien

Kelompok ini menikmati subsidi Pertalite Rp 41.000–46.000 per bulan, dan pengemudi ojek online, petani, serta nelayan adalah yang pertama terpukul jika pembatasan diberlakukan," pungkasnya.