Laju inflasi konsumen di China secara tak terduga mengalami stagnasi pada Mei 2026.

Di sisi lain, harga-harga di tingkat produsen justru melesat dengan kecepatan tertinggi dalam hampir empat tahun terakhir.

>>> DJP Blokir Saham Lima Penunggak Pajak Senilai Rp3,4 Miliar

Kondisi tersebut dipicu oleh lonjakan harga komoditas global yang mulai membawa ekonomi terbesar kedua di dunia ini mendekati akhir dari rekor deflasi panjangnya, seperti dikutip dari Bloombergtechnoz pada Rabu (10/6).

Berdasarkan data resmi Biro Statistik Nasional (NBS) China, Indeks Harga Konsumen (IHK) tumbuh 1,2% secara tahunan (yoy).

Laju ini sama persis dengan pencapaian bulan sebelumnya, namun meleset dari estimasi median ekonom dalam survei Bloomberg yang memproyeksikan angka 1,3%.

Kemerosotan harga daging babi hingga 16% menjadi penahan utama dengan menyumbang kontraksi 0,3 poin persentase pada IHK.

Sebaliknya, inflasi di tingkat produsen atau Producer Price Index (PPI) melesat menjadi 3,9% (yoy), selaras dengan perkiraan pasar dan naik signifikan dari posisi April sebesar 2,8%.

Sementara itu, IHK inti yang menyisihkan komponen bergejolak seperti bahan makanan dan energi turut mengejutkan pasar karena tumbuh lebih lambat di angka 1,1%, turun dari capaian April sebesar 1,2%.

Setelah perilisan data tersebut, nilai tukar mata uang yuan China langsung menghapus keuntungan yang sempat diraih terhadap dolar AS dalam perdagangan domestik.

Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun terpantau bergerak stabil di kisaran level 1,7%.

Dorongan dari AI dan Komoditas

"Akselerasi elektrifikasi, integrasi mendalam kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di berbagai sektor, serta meningkatnya permintaan terhadap daya komputasi telah mendongkrak harga di industri seperti logam non-besi, mesin listrik, dan komputer," kata ahli statistik NBS Dong Lijuan dalam pernyataan resmi yang menyertai rilis data tersebut.