>>> Timnas Indonesia Naik ke Peringkat 118 Ranking FIFA Usai Tekuk Mozambik

Demam teknologi AI global saat ini memang mulai merembet ke sektor harga karena melonjaknya permintaan pasar terhadap barang elektronik asal China, mulai dari komponen cip hingga papan sirkuit cetak.

Volume ekspor China melompat lebih dari 19% (yoy) pada bulan Mei yang menjadi rekor tertinggi dalam tiga bulan terakhir.

Lompatan ini sebagian besar didorong oleh siklus investasi global yang menggelontorkan ratusan miliar dolar untuk pembangunan pusat data berskala besar di Amerika Serikat.

Selain itu, reli harga komoditas seperti aluminium dan tembaga ikut mengerek naik harga jual pabrik.

Sektor logam non-besi mendapatkan berkah besar berkat tingginya permintaan bahan baku untuk menopang infrastruktur teknologi AI.

Di sisi lain, krisis energi global yang dipicu oleh perang di Iran turut membangkitkan kembali tekanan inflasi di China.

Meski demikian, pabrik-pabrik yang langsung berhadapan dengan konsumen akhir masih terseok-seok untuk meneruskan beban kenaikan biaya bahan baku ini kepada pembeli.

Lemahnya permintaan domestik selama bertahun-tahun serta masalah kelebihan pasokan telah menciptakan persaingan ketat di antara perusahaan industri China, yang pada akhirnya menahan laju pemulihan inflasi.

>>> Wuling Pertahankan Almaz Meski Eksion Resmi Meluncur

Bloomberg Economics memprediksi bahwa deflator PDB yang mengukur perubahan harga di seluruh lini perekonomian berpotensi mengakhiri tren penurunan tiga tahun berturut-turut pada kuartal ini.