Harga minyak mentah dunia kembali meningkat setelah militer Amerika Serikat meluncurkan serangan udara ke wilayah Iran pada Rabu, 10 Juni 2026.

Serangan ini merupakan respons atas jatuhnya helikopter militer AS yang diduga ditembak jatuh oleh Iran.

>>> China Sukses Lakukan Transplantasi Ginjal dan Hati Babi ke Manusia

Minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) sempat melonjak hampir 2% mendekati level US$90 per barel akibat ketegangan tersebut.

Serangan membela diri ini diperintahkan langsung oleh Presiden Donald Trump.

"Misi ini merupakan respons proporsional terhadap agresi Iran yang tidak berdasar," ungkap Komando Sentral AS (Centcom).

Pasukan militer AS menegaskan bahwa wilayah Pulau Qeshm di Selat Hormuz menjadi sasaran rudal dalam operasi tersebut.

Media resmi pemerintah Iran melaporkan terdengar setidaknya enam ledakan di lokasi kejadian.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memberikan tanggapan keras dan menegaskan bahwa angkatan bersenjata negaranya tidak akan membiarkan serangan atau ancaman apa pun berlalu tanpa balasan.

Pihak Iran sebelumnya dituduh secara terbuka oleh Donald Trump sebagai penanggung jawab atas jatuhnya helikopter patroli tersebut.

Eskalasi ini berisiko mengganggu stabilitas gencatan senjata di kawasan Timur Tengah yang melibatkan Iran dan Israel.

"Peristiwa ini semakin menunjukkan bahwa kesepakatan dengan Iran masih jauh dari kenyataan," kata Saul Kavonic, analis energi senior di MST Marquee.

>>> PT Trimitra Trans Persada Bagikan Dividen Tunai Rp21 Per Saham

Kavonic menilai pasar keuangan masih sedikit terhindar dari kepanikan massal karena skala serangan udara tersebut dinilai masih terukur.

"Namun pasar sedikit terhibur karena serangan tersebut masih bersifat proporsional, bukan serangan total.

Hal itu menunjukkan bahwa keinginan untuk mencapai kesepakatan masih lebih besar dibandingkan keinginan untuk melanjutkan perang," ujarnya.