Harga minyak mentah dunia melonjak hampir 5 persen pada perdagangan Senin, 8 Juni 2026, setelah Israel menyerang fasilitas petrokimia di Mahshahr, Iran barat daya.

Kontrak Brent untuk pengiriman Agustus naik 4,7 persen ke level US$97,44 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 4,5 persen menjadi US$94,62 per barel.

>>> Menkes Budi Gunadi Dukung Empat Langkah Badan Gizi Nasional

Eskalasi militer ini membalikkan tren penurunan harga akhir pekan lalu saat Brent sempat menyentuh US$93 dan WTI di posisi US$90 per barel akibat harapan gencatan senjata.

Krisis Selat Hormuz Makin Parah

Aksi saling balas di Timur Tengah terus meningkat setelah Iran meluncurkan serangan rudal ke Israel sebagai respons atas operasi militer di Beirut.

Kondisi geopolitik yang memanas membuat pasar kembali menyoroti risiko distribusi di Selat Hormuz, jalur air strategis yang mengalirkan sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia.

Selat tersebut telah ditutup oleh Iran sejak akhir Februari 2026, menghambat pasokan global.

Analisis teknikal dari Agrodana Research menunjukkan pergerakan pasar komoditas masih sangat sensitif terhadap dinamika hubungan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Upaya peningkatan pasokan global juga tertahan karena sebagian besar produsen OPEC+ belum optimal merealisasikan tambahan kuota produksi sebesar 188.000 barel per hari untuk bulan Juli akibat hambatan ekspor di kawasan Teluk Persia.

Dampak pada Pelaut dan Kapal

Penutupan jalur laut ini berdampak langsung pada ribuan kru kapal komoditas yang terjebak di sekitar Selat Hormuz selama hampir 100 hari.

Organisasi Maritim Internasional (IMO) mencatat sebanyak 1.600 kapal tidak dapat keluar dan setidaknya 11 pelaut telah dinyatakan tewas dalam 39 insiden militer.