Kondisi ini memicu keresahan lain dari para pelaut Korea yang berada di kapal berbeda mengenai eksploitasi harga kebutuhan pokok oleh vendor pelabuhan.

"Juga terasa bahwa beberapa pemasok makanan dan air mencoba mengambil keuntungan dari situasi ini dan meraup keuntungan berlebihan," kata seorang pelaut Korea.

Krisis berkepanjangan ini membuat banyak perusahaan pelayaran mulai memotong gaji dan tunjangan untuk menekan kerugian besar, yang kemudian memaksa para pekerja memikirkan ulang kelanjutan karier mereka.

"Krisis ini menunjukkan betapa berbahayanya pekerjaan ini," kata Kamil, pelaut Pakistan.

Ia mengkhawatirkan akses jalur pelayaran internasional di masa depan akan terus dijadikan alat dalam konflik politik global.

Pengumuman peringatan militer berkekuatan pengeras suara dari kapal perang Iran di jalur laut tersebut juga dikonfirmasi oleh pekerja kapal tanker minyak.

"Kapal-kapal ini menggunakan lampu terang. Kami juga mendengar pengumuman melalui pengeras suara.

Kapten mengatakan orang Iran melakukan ini untuk mencegah siapa pun melintas," kata Sajid Masood, warga Pakistan yang bekerja sebagai koki.

>>> Imigrasi AS Tolak Wasit Somalia Omar Artan Masuk untuk Piala Dunia 2026

Ketidakpastian politik diperkirakan masih berlanjut setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan perjuangan belum berakhir, sementara AS tetap memberlakukan blokade laut dan pembekuan aset hingga Iran menyelesaikan seluruh kewajibannya.