Para pelaut yang terisolasi di dalam zona konflik menghadapi tekanan mental yang berat serta keterbatasan pasokan logistik di tengah ancaman serangan udara dan ranjau laut.

"Benar-benar aneh bahwa segala sesuatu terlihat normal di luar, tetapi orang-orang di dalam tidak tenang," kata Hassan Khan, pelaut asal Pakistan.

Ia menambahkan bahwa seluruh awak kapalnya merasa sangat kelelahan secara fisik dan mental akibat situasi yang terus mencekam sepanjang hari.

Kondisi serupa dialami oleh kapal Banglar Joyjatra milik Bangladesh yang membawa 37.000 ton pupuk dan telah dua kali gagal keluar dari selat karena peringatan militer serta pembatalan izin lintas oleh Iran.

"Seolah-olah kami terjebak di sebuah kolam. Hanya ada satu jalan keluar, dan itu adalah Hormuz," kata Shafiqul Islam, Kapten Kapal Banglar Joyjatra.

Ia juga mengonfirmasi kengerian dari rangkaian serangan rudal malam hari yang terjadi sangat dekat dengan posisi berlabuh kapal mereka.

>>> Garam dan Madu Viral, Musik Hipdut Kini Digandrungi Gen Z

"Kadang-kadang rudal melintas di atas satu kapal, dan kadang-kadang puing-puing jatuh ke kapal berikutnya," kata Shafiqul Islam.

Selain ancaman keselamatan, biaya operasional kapal membengkak drastis akibat harga pasokan air bersih yang melonjak tinggi karena dimanfaatkan oleh sejumlah pemasok lokal.

"Kami membeli sekitar 180 ton air untuk kapal dua hari lalu. Sebelumnya biayanya antara US$1.500 dan US$2.000.

Sekarang biayanya menjadi US$11.000," kata Rashedul Hasan, Kepala Kamar Mesin Kapal Banglar Joyjatra.

Ia menjelaskan bahwa ketakutan kru kapal sangat beralasan karena mereka menyaksikan langsung kehancuran akibat pertempuran.

"Setiap kali serangan berlangsung sepanjang malam, tidak ada dari kami yang bisa tidur," kata Rashedul Hasan.