Baterai jenis Sealed Lead Acid (SLA) atau aki kering pada sepeda motor listrik murah di Indonesia dinilai lebih cepat rusak.

Penyebab utamanya adalah ketiadaan sistem pengaman pintar di dalam rangkaian baterai.

>>> Masjid Nabawi Pasok 235 Ton Air Zamzam Setiap Hari untuk Jemaah

Pemilik bengkel spesialis baterai kendaraan listrik Bogor Battery Electric Motion (BEMo) di Semplak, Bogor, Hernest mengungkapkan bahwa absennya sistem pengaman menjadi penyebab pendeknya usia pakai baterai SLA.

"Baterai Lithium itu awet karena ada BMS (Battery Management System) untuk mengatur cut off saat overcharge atau undercharge.

Tapi kalau sistemnya SLA, itu tidak ada," ujar Hernest.

Daya tahan baterai tipe SLA umumnya hanya mencapai hitungan bulan. Pencapaian usia satu tahun sudah dikategorikan sangat bagus.

Kebiasaan Isi Daya Semalaman Memperparah Kerusakan

Tanpa BMS, aki kering sangat rentan rusak akibat kebiasaan pengguna yang mengisi daya semalaman. Aliran listrik rumah tetap mengalir meskipun kapasitas daya sudah 100 persen.

>>> Pemerintah Targetkan Anggaran PKPN 2027 Capai Rp1.896 Triliun

"Kalau SLA, begitu daya sudah full tapi tetap tercolok, arusnya tetap disuapi terus. Akhirnya apa?

Baterainya kembung.

Kalau aki SLA sudah kembung dan indikatornya mulai naik-turun saat tuas gas ditarik, itu tanda performanya sudah drop total," jelas Hernest.

Sebagai solusi jangka panjang, pemilik kendaraan dapat melakukan modifikasi ke rangkaian baterai Lithium kustom yang dilengkapi BMS dan melalui kalibrasi tegangan.

"Sebagai contoh, pengguna punya motor listrik tipe SLA bawaan pabrik. Umur akinya hanya bertahan enam sampai 12 bulan dengan harga penggantian baru sekitar Rp 1,3 juta.

>>> Luhut Dukung Kenaikan BI-Rate untuk Jaga Stabilitas Rupiah

Nah, kalau mau di-upgrade di tempat saya ke baterai Lithium, biayanya berkisar di angka Rp 2,5 juta," kata Hernest.