Mantan Menteri Keuangan RI Chatib Basri menyoroti depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang dipicu oleh persoalan kepercayaan investor terhadap kondisi fiskal domestik.

Hal itu disampaikan dalam agenda Grab Business Forum 2026 di Jakarta pada Selasa (9/6/2026).

>>> Real Madrid Desak UEFA Cabut Gelar Juara Barcelona Akibat Kasus Negreira

Analisis kausalitas menunjukkan pergerakan Credit Default Swap (CDS) atau biaya asuransi risiko gagal bayar obligasi negara menjelaskan langsung 23 persen variasi pelemahan rupiah.

Sebaliknya, fluktuasi rupiah hanya memengaruhi 2,3 persen pergerakan CDS.

Kondisi CDS Indonesia dilaporkan mulai memburuk sejak Januari 2026 sewaktu Moody’s mengubah outlook dan muncul kekhawatiran pasar terkait defisit anggaran yang mendekati angka 3 persen.

Situasi ini terjadi sebelum pecahnya konflik bersenjata antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel.

"Soal kita itu adalah soal confidence di fiskal," kata Chatib Basri, Ekonom Senior sekaligus Menteri Keuangan RI periode 2013-2014.

Penurunan kredibilitas fiskal berakibat pada depresiasi mata uang Indonesia yang lebih dalam dibandingkan negara lain yang juga terdampak perang global.

Meski demikian, Bank Indonesia mengestimasi setiap pelemahan Rp1 terhadap dolar AS hanya menambah inflasi umum sekitar 0,13 persen.

>>> Inspirasi Nama Bayi Laki-Laki Bahasa Italia yang Unik dan Penuh Doa

Dampak kenaikan harga akibat depresiasi rupiah yang berada di kisaran 8 persen diprediksi tetap berada di bawah 1 persen untuk inflasi umum.

Namun, tekanan berat akan dirasakan pada produk berbasis impor seperti besi dan plastik yang memaksa sektor swasta memotong margin keuntungan atau meneruskan biaya ke konsumen.

"Sekarang pertanyaannya adalah sama nggak (kondisi ekonomi) 1998 dengan 2026? My answer is no.