Jarak emosional antara orang tua dan anak menjadi perbincangan hangat di media sosial. Kondisi ini sering muncul saat anak mulai beranjak dewasa, meski secara fisik mereka tinggal berdekatan.

Hubungan hangat sebenarnya bisa dibangun melalui aktivitas sederhana yang kerap terabaikan, yaitu meluangkan waktu bermain bersama. Hal ini disampaikan Psikolog Klinis dan Keluarga, Pritta Tyas.

>>> Timnas Indonesia Targetkan Kemenangan Lawan Mozambik untuk Naikkan Peringkat FIFA

Menurut Pritta, bermain berfungsi sebagai sarana interaksi untuk membangun kedekatan dan memahami karakter anak. Aktivitas ini bukan sekadar mengisi waktu luang.

"Kalau mau mengingatkan anak PR, makan, tidur, dasarnya harus connection dulu.

Anak trust sama kita, kualitas hubungannya baik," ujar Pritta dalam acara LEGO Playground di Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Jumat (05/06).

Ia memaparkan tiga manfaat utama bermain yang memperkokoh ikatan orang tua dan anak. Pertama, aktivitas bermain menghadirkan pola komunikasi timbal balik "serve and return".

Melalui momen ini, orang tua dan anak belajar bergiliran dan bekerja sama mencapai tujuan permainan. "Ada sesuatu yang dilakukan bergantian dan bersama-sama, ada kolaborasinya," kata Pritta.

Anak pun merasa mendapat perhatian penuh dan dilibatkan secara aktif dalam interaksi.

Ruang Aman untuk Mengekspresikan Perasaan

Kedua, dunia bermain memberi kebebasan anak mengutarakan pikiran dan emosi secara terbuka. Saat bermain, anak lebih mudah mengekspresikan kegembiraan, kesulitan, hingga keinginan.

>>> Pemerintah Subsidi Kedelai Impor Rp2.000 per Kg di Jakarta

"Kesempatan anak mengutarakan pikiran dan perasaan terjadi selama bermain. Ini mengurangi kemungkinan emotional distance," tegas Pritta.

Dialog alami saat bermain memudahkan orang tua membaca kondisi emosional anak, terutama saat anak sulit mengungkapkan isi hati.