Gangguan persendian seperti rematik dan asam urat sering disalahartikan karena gejalanya yang mirip. Padahal, kedua kondisi ini memiliki penyebab dan metode penanganan yang sangat berbeda.

Memahami perbedaan mendasar antara rematik dan asam urat penting agar penderita tidak keliru dalam mengambil tindakan pengobatan. Keduanya merupakan jenis artritis yang memicu peradangan, tetapi sumber masalahnya berbeda.

>>> 7 Pemain Top Gagal ke Piala Dunia 2026, Jadi Incaran Bursa Transfer

Penyebab yang Berbeda

Rematik adalah penyakit autoimun di mana sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan sehat pelapis sendi. Akibatnya, terjadi peradangan kronis yang menyebabkan nyeri, bengkak, dan bahkan perubahan bentuk sendi.

Dampak rematik tidak terbatas pada sendi; penyakit ini juga dapat memengaruhi organ lain seperti kulit, mata, dan jantung.

Sementara itu, asam urat terjadi akibat tingginya kadar asam urat dalam darah. Zat ini diproduksi saat tubuh mengolah makanan kaya purin, seperti daging.

Pada kondisi normal, ginjal menyaring dan membuang asam urat melalui urine. Namun, jika jumlahnya berlebihan, terbentuk kristal tajam di sendi yang memicu nyeri hebat.

Gejala yang Berbeda

Gejala rematik biasanya dimulai pada sendi kecil seperti tangan dan kaki. Sendi terasa sakit, bengkak, dan hangat saat diraba.

Seiring waktu, peradangan dapat menyebar ke sendi yang lebih besar seperti pergelangan tangan, siku, bahu, lutut, hingga pinggul.

Penderita juga sering mengalami kelelahan ekstrem, penurunan nafsu makan, dan demam.

>>> Malam 1 Suro 2026 Berbeda dengan 1 Muharram 1448 Hijriah

Ciri khas rematik adalah gejala yang muncul simetris di kedua sisi tubuh, serta kekakuan sendi di pagi hari yang membaik setelah beraktivitas.