Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diproyeksikan masih fluktuatif pada 9 Juni 2026.

Tekanan datang dari penurunan cadangan devisa yang dipicu pembayaran utang luar negeri dan intervensi Bank Indonesia (BI) untuk menjaga stabilitas.

>>> Kurs Rupiah 9 Juni 2026 Melemah ke Rp18.203 per Dolar AS

Sepanjang Mei 2026, rupiah terdepresiasi 3,08% dari Rp17.346 menjadi Rp17.881 per dolar AS.

Meski demikian, BI menyatakan cadangan devisa masih aman, setara 5,6 bulan impor atau di atas standar internasional.

Tekanan Global dan Domestik

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai level Rp18.500 per dolar AS menjadi batas psikologis yang perlu diwaspadai.

Jika tembus, kebutuhan intervensi BI bisa membesar dan cadangan devisa berpotensi turun lebih cepat.

Faktor global meliputi ketegangan geopolitik, harga minyak tinggi, dan imbal hasil aset AS yang menarik.

Sementara faktor domestik mencakup defisit fiskal, arus keluar modal asing, dan konsistensi kebijakan ekonomi.

>>> Timnas Indonesia Hadapi Mozambik di Laga Kedua FIFA Matchday

Untuk semester II-2026, Josua memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp17.900 hingga Rp18.200 per dolar AS.

Cadangan devisa diperkirakan terjaga di US$140-145 miliar, namun bisa turun ke US$135-140 miliar jika tekanan meningkat.

Ekonom BTN Myrdal Gunarto melihat prospek lebih positif.

Ia memperkirakan cadangan devisa bertahan di sekitar US$143 miliar hingga akhir tahun, ditopang masuknya kembali modal asing dan surplus neraca perdagangan.

Myrdal bahkan memperkirakan rupiah dapat ditutup di level Rp17.602 per dolar AS pada akhir 2026.

Namun dalam jangka pendek, area Rp18.300 menjadi resistensi terdekat, dan jika ditembus, pelemahan menuju Rp18.500-18.700 terbuka lebar.

>>> Volkswagen: Populasi Mobil Konvensional Bakal Menyusut Drastis

Pelaku pasar menilai BI perlu tetap aktif menjaga stabilitas pasar valas. Arah pergerakan rupiah pada paruh kedua 2026 akan menjadi faktor kunci kekuatan bantalan eksternal Indonesia.