Volkswagen: Populasi Mobil Konvensional Bakal Menyusut Drastis
Volkswagen memproyeksikan transisi kendaraan listrik akan membuat pilihan mobil bermesin pembakaran internal atau ICE semakin terbatas di masa depan.
Anggota dewan Volkswagen yang membawahi penjualan, pemasaran, dan purnajual, Martin Sander, mengibaratkan eksistensi mobil konvensional kelak seperti kuda saat ini, yang tidak lagi menjadi alat transportasi utama.
>>> IHSG 9 Juni 2026 Dibuka Menguat ke Level 5.372 setelah Anjlok
Menurut Sander, akselerasi adopsi kendaraan listrik tidak bisa hanya mengandalkan regulasi pelarangan mobil berbahan bakar fosil.
"Saya tidak menyukai diskusi yang hanya berfokus pada larangan mesin pembakaran internal.
Jika ingin konsumen beralih ke teknologi baru, tunjukkan manfaatnya, bukan sekadar membicarakan kapan kendaraan lama tidak lagi diperbolehkan," ujarnya dikutip dari Carscoops, Senin (8/6/2026).
Strategi pelarangan dinilai kurang efektif.
Pemilik mobil bensin atau diesel yang telah menggunakan kendaraannya puluhan tahun membutuhkan argumen kuat sebelum beralih ke mobil listrik.
Langkah yang lebih prioritas adalah penyediaan jaringan pengisian daya, edukasi tentang kelebihan mobil listrik, dan penekanan biaya energi.
>>> Timnas Indonesia Tantang Mozambik dengan Kepercayaan Diri Tinggi
Hambatan kepemilikan yang berkurang diyakini akan menarik lebih banyak konsumen.
Jika kondisi ideal terwujud, ketertarikan pasar terhadap mobil berbahan bakar fosil diproyeksikan merosot tajam.
"Bisa saja pada 2035 hanya tersisa tiga, empat, atau lima persen konsumen yang masih menginginkan kendaraan ICE," kata Sander.
Strategi Volkswagen di Pasar Eropa dan China
Volkswagen menegaskan belum berencana mendatangkan mobil listrik range extender (EREV) ke Eropa. Teknologi yang dipasarkan di China itu dinilai belum memiliki permintaan kuat di kawasan tersebut.
Meski demikian, Volkswagen mengadopsi pengalaman dari pengembangan ekosistem kendaraan listrik di China untuk meningkatkan daya saing global. Langkah ini diambil menghadapi persaingan ketat dari produsen otomotif China.
"Apa yang kami pelajari di China akan membantu kami tetap kompetitif di pasar lain. Fokus kami adalah skala produksi, efisiensi, dan biaya.
>>> AS Masukkan Alibaba hingga BYD ke Daftar Hitam Militer
Kami harus kompetitif, tidak ada alternatif lain," ujar Sander.
Update Terbaru
Cara agar Otak Menua dengan Sehat Menurut Ahli Neurologi, Bukan Diet
Jumat / 24-07-2026, 23:00 WIB
Piala AFF 2026: Pembuktian Nadeo Argawinata sebagai Kiper Utama Timnas Indonesia
Jumat / 24-07-2026, 22:59 WIB
Lee Min-ho Kembali Jadi Aktor Korea Terfavorit di Mata Penggemar Global
Jumat / 24-07-2026, 22:59 WIB
Penumpang Alphard Penerobos Pelican Crossing HI Ternyata Anggota Polda Jabar
Jumat / 24-07-2026, 22:59 WIB
Persija Hormati Sanksi KFA untuk Shin Tae Yong, Belum Ambil Sikap
Jumat / 24-07-2026, 22:58 WIB
Hasil Piala AFF: Vietnam ke Puncak usai Bantai Timor Leste 7-0
Jumat / 24-07-2026, 22:58 WIB
Speedboat Bawa 11 Wisatawan Asing Hilang Kontak di Perairan Gorontalo
Jumat / 24-07-2026, 22:58 WIB
Fallout Co-Creator: Morrowind di Xbox Ubah Standar RPG Konsol
Jumat / 24-07-2026, 22:58 WIB
Facebook Luncurkan Lencana 'Facebook Verified' Gratis untuk Lawan AI Palsu
Jumat / 24-07-2026, 22:49 WIB
Mengenal Profesi Mixologist, Peracik Minuman yang Kini Makin Diburu Industri F&B
Jumat / 24-07-2026, 22:49 WIB
Game Freak Bawa Interaksi Anjing ke Level Baru di Beast of Reincarnation
Jumat / 24-07-2026, 22:44 WIB
Bos Amazon Games: Harga Konsol dan Steam Machine di Atas $1.000 Dorong Minat ke Cloud Gaming
Jumat / 24-07-2026, 22:43 WIB
Video Promo Film Anime The Ribbon Hero Soroti Ikatan Pine dan Safir
Jumat / 24-07-2026, 22:43 WIB
Jensen Huang Posting Pertama di X, Dukung Model AI Terbuka
Jumat / 24-07-2026, 22:43 WIB







