Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali melemah pada perdagangan Selasa (9/6/2026).

Berdasarkan data Bloombergtechnoz, rupiah terdepresiasi 0,07% ke level Rp18.203 per dolar AS di pasar Non-Deliverable Forwards (NDF) pukul 07:30 WIB.

>>> Timnas Indonesia Hadapi Mozambik di Laga Kedua FIFA Matchday

Pelemahan rupiah terjadi seiring menguatnya indeks dolar AS ke level 100,4.

Sementara itu, harga minyak mentah dunia bertahan di US$94,06 per barel meski terkoreksi tipis 0,2%.

Kebijakan moneter bank sentral AS yang diproyeksikan semakin hawkish diperkirakan terus membayangi mata uang Asia.

Namun, penurunan kecil harga minyak mentah pagi ini sempat memberi kelonggaran bagi beberapa mata uang regional.

Di Asia, won Korea Selatan memimpin penguatan sebesar 0,39%, diikuti ringgit Malaysia 0,08%, dan baht Thailand 0,06%.

Yuan offshore terapresiasi 0,03%, dolar Hong Kong naik 0,01%, sedangkan yen Jepang turun 0,01%.

Kondisi domestik turut menekan rupiah. Performa ekonomi dalam negeri yang belum optimal dan keraguan pelaku pasar terhadap konsistensi kebijakan pemerintah memperburuk sentimen.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan faktor global menjelaskan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, tetapi faktor domestik menyebabkan rupiah melemah lebih dalam.

"Tekanan luar negeri menyalakan api, tetapi ketidakpastian kebijakan domestik memperbesar rambatannya," ujarnya.

>>> Volkswagen: Populasi Mobil Konvensional Bakal Menyusut Drastis

Di pasar Surat Berharga Negara (SBN), peningkatan yield mencerminkan tingginya premi risiko. Imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) juga naik di seluruh tenor.

Imbal hasil SRBI tenor 3 bulan naik dari 6,47% menjadi 6,62%, tenor 6 bulan dari 6,69% ke 6,87%, dan tenor 12 bulan melonjak dari 6,94% ke 7,24%.