Meski imbal hasil naik, minat investor global tinggi, terlihat dari volume transaksi tenor 12 bulan yang melesat dari Rp405 miliar menjadi hampir Rp7 triliun dalam sehari.

Kementerian Keuangan mencatat realisasi penarikan utang baru pemerintah mencapai Rp386 triliun hingga Mei 2026. Angka tersebut setara 46% dari target APBN tahun ini.

Cadangan devisa Indonesia turun US$1,3 miliar, sehingga total penurunan tahun ini menjadi US$11,57 miliar.

Saat ini cadangan devisa nasional sebesar US$144,9 miliar, setara dengan pembiayaan 5,7 bulan impor dan masih di atas standar kecukupan internasional.

Secara teknikal, rupiah masih berisiko terdepresiasi lebih lanjut. Support pertama diperkirakan di Rp18.200/US$ dan support kedua di Rp18.250/US$.

Jika tertahan di atas level terlemah sepanjang masa, pelemahan menuju Rp18.400/US$ hingga Rp18.500/US$ berpotensi terbuka.

>>> IHSG 9 Juni 2026 Dibuka Menguat ke Level 5.372 setelah Anjlok

Sebaliknya, resistance psikologis di Rp18.100/US$ dengan target penguatan ke Rp18.000/US$.