Nilai tukar rupiah bergerak ke zona hijau pada pembukaan perdagangan Selasa, 9 Juni 2026.

Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.05 WIB di pasar spot exchange, mata uang Garuda menguat 43 poin atau 0,24 persen ke level Rp 18.144 per dolar AS.

>>> Apple Rombak Sistem AI dengan Integrasi Google Gemini di WWDC 2026

Penguatan ini berbanding terbalik dengan perdagangan sebelumnya.

Pada Senin (8/6), rupiah ditutup melemah 151 poin terhadap dolar AS, setelah sempat terdepresiasi hingga 200 poin pada level Rp 18.187.

Di sisi lain, indeks dolar AS terpantau mengalami penurunan tipis sebesar 0,07 persen menuju level 99.973.

Meski demikian, dolar AS secara umum masih perkasa terhadap mayoritas mata uang utama global akibat tensi geopolitik.

Ketidakpastian yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah menjadi motor utama kokohnya greenback secara global.

>>> Pengusaha Mal Tahan Kenaikan Harga Sewa di Tengah Tekanan Biaya

Indeks dolar AS bahkan sempat mendekati posisi tertinggi dalam dua bulan terakhir di level 100,21.

Kondisi ini menekan sejumlah mata uang utama di pasar Asia.

Euro berada pada posisi US$ 1,1528 per dolar AS, sedangkan poundsterling Inggris bertengger di angka US$ 1,3335 per dolar AS, di mana kedua mata uang tersebut melemah sekitar 0,05 persen.

Penurunan juga melanda dolar Australia sebesar 0,1 persen menjadi US$ 0,7039 per dolar AS, diikuti dolar Selandia Baru yang diperdagangkan pada level US$ 0,5804 per dolar AS.

Sementara itu, yen Jepang terus bergejolak di sekitar level 160, tepatnya pada posisi 160,295, yang kerap dianggap sebagai batas intervensi otoritas setempat.

>>> Bojan Hodak Raih Gelar Pelatih Terbaik Liga Tiga Musim Beruntun

Ahli strategi valuta asing senior di NAB, Rodrigo Catril, mengatakan bahwa dolar AS menguat karena ketidakpastian dan data ekonomi yang kuat di AS.