Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) kembali menggelar lelang Surat Utang Negara (SUN) pada hari ini, Selasa (9/6/2026).

Target indikatif yang ditetapkan mencapai Rp36 triliun.

>>> Harga Bitcoin Tergelincir ke US$ 63.020, Analis Sebut Momen Akumulasi

Lelang ini digelar di tengah tekanan ekonomi yang meningkat.

Rupiah baru saja menembus rekor terlemah sepanjang sejarah di level Rp18.178 per dolar AS pada penutupan perdagangan kemarin.

Cadangan devisa Indonesia juga terus menurun selama lima bulan beruntun menjadi US$144,9 miliar. Di pasar saham, investor asing mencatatkan arus keluar dana.

Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah terus bergerak naik dan meninggalkan zona 6% untuk tenor 10 tahun. Kondisi ini menggambarkan bahwa premi risiko Indonesia sedang meningkat.

Sinyal kenaikan biaya pendanaan juga terlihat pada perkembangan di pasar Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Imbal hasil SRBI secara konsisten mengalami kenaikan di seluruh tenor.

Imbal hasil tenor 3 bulan naik dari 6,47% menjadi 6,62%, tenor 6 bulan naik dari 6,69% menjadi 6,87%, dan tenor 12 bulan melonjak dari 6,94% menjadi 7,24%.

Meski demikian, kenaikan imbal hasil tersebut tetap disokong minat investor yang cukup tinggi.

>>> Kurs Rupiah Melemah ke Rp 18.187 per Dolar AS pada 8 Juni 2026

Volume transaksi SRBI tenor 12 bulan melesat dari Rp405 miliar menjadi hampir Rp7 triliun dalam sehari.

Artinya, dana di pasar masih tersedia dan investor bersedia menempatkan uangnya di instrumen rupiah dengan kompensasi yang lebih tinggi seiring meningkatnya risiko Indonesia.

Di pasar SUN, imbal hasil tenor acuan 10 tahun yang sebelumnya dijaga di level 6,9% sesuai asumsi APBN, telah jebol dan menembus 7,26% setelah naik 38,4 basis poin (bps).