Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan pada perdagangan Senin (8/6/2026). Dolar Amerika Serikat (AS) menguat signifikan dan sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa secara intraday.

Berdasarkan data Bloomberg yang dikutip dari Detik Finance, dolar AS bertengger di level Rp 18.201 pada pukul 13.18 WIB.

>>> ITS Buka Pendaftaran Program Sarjana Internasional hingga 8 Juli 2026

Angka tersebut menunjukkan penguatan sebesar 0,91% dibandingkan posisi pembukaan di Rp 18.106,5.

Namun, penguatan dolar AS tidak bertahan lama.

Pada pukul 13.34 WIB, mata uang AS terkoreksi ke Rp 18.197,5 atau menguat 0,90%.

Saat perdagangan resmi ditutup, dolar AS berada di level Rp 18.187,5. Angka ini menandakan penguatan sebesar 0,84% sepanjang hari.

>>> OpenAI Targetkan Valuasi Rp18.140 Triliun Jelang IPO

Dolar AS Menguat Terhadap Mata Uang Lain

Sepanjang tahun 2026, dolar AS tercatat sudah menguat 9,04% terhadap rupiah. Dominasi dolar AS juga terlihat terhadap mata uang global lainnya.

Dolar AS menguat 0,04% terhadap dolar Australia (AUD), 0,06% terhadap dolar Kanada (CAD), dan 0,20% terhadap franc Swiss (CHF).

Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan dolar AS masih akan melanjutkan penguatan pada perdagangan Selasa (9/6).

>>> OJK Dorong Pengembangan Blockchain Lewat Stablecoin dan Tokenisasi Aset

"Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 18.180 hingga Rp 18.230," ungkap Ibrahim dalam keterangan tertulisnya, Senin (8/6/2026).