Pelemahan rupiah yang berkepanjangan mulai menimbulkan tekanan ganda bagi industri manufaktur. Di satu sisi, biaya bahan baku impor, kemasan, energi, dan logistik terus meningkat.

Di sisi lain, pelaku usaha kesulitan menaikkan harga jual karena daya beli masyarakat masih lemah dan persaingan pasar semakin ketat.

>>> Saham Teknologi Bangkit, Wall Street Menguat

Alhasil, margin keuntungan perusahaan menjadi pihak yang paling banyak dikorbankan.

Tekanan Ganda dari Berbagai Sektor

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DKI Jakarta, Diana Dewi mengatakan, fenomena tersebut menciptakan kondisi double squeeze atau tekanan ganda bagi pelaku industri, terutama sektor yang sangat bergantung pada bahan baku impor.

"Double inflation atau tekanan ganda dari lonjakan biaya produksi dan pelemahan rupiah tentu menjadi ancaman bagi pengusaha manufaktur.

Kondisi ini memotong margin keuntungan yang cukup besar," ujar Diana kepada Kontan, Senin (8/6/2026).

Menurut dia, tekanan tersebut diperparah oleh tingginya biaya energi global dan biaya logistik yang masih membebani dunia usaha.

Diana menjelaskan, industri seperti tekstil, elektronik, otomotif hingga kemasan memiliki porsi biaya bahan baku yang mencapai sekitar 55% dari total struktur biaya produksi.

Ketika nilai tukar melemah, biaya produksi langsung meningkat signifikan.

Persoalannya, pelaku usaha tidak memiliki keleluasaan untuk meneruskan seluruh kenaikan biaya tersebut kepada konsumen. "Idealnya lonjakan biaya produksi diteruskan ke konsumen dalam bentuk kenaikan harga jual.

Namun pengusaha berada dalam posisi sulit karena daya beli masyarakat sedang lemah. Menaikkan harga terlalu tinggi berisiko membuat produk tidak laku," katanya.

Jika kondisi tersebut berlangsung lama, Diana memperingatkan industri berpotensi mengurangi kapasitas produksi hingga melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK).