Risiko yang muncul bukan hanya penurunan profitabilitas, tetapi juga pengurangan kapasitas produksi dan peningkatan PHK, terutama pada sektor padat karya seperti tekstil dan alas kaki.

Senada, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M Rizal Taufikurahman menyebut fenomena tersebut sebagai double squeeze bagi industri manufaktur.

"Biaya produksi naik akibat pelemahan rupiah dan mahalnya bahan baku impor, sementara ruang untuk menaikkan harga jual sangat terbatas.

Dalam kondisi seperti ini, yang paling terdampak adalah margin keuntungan perusahaan," katanya.

Rizal menilai pemerintah perlu mencari keseimbangan antara menjaga inflasi dan memastikan keberlanjutan usaha.

>>> APPBI: Masyarakat Lebih Selektif, Pilih Produk Murah di Mal

Langkah yang diperlukan antara lain percepatan substitusi impor bahan baku, pemberian insentif efisiensi produksi, menjaga stabilitas nilai tukar, serta memperkuat permintaan domestik agar industri memiliki ruang mempertahankan profitabilitas.