Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja menyebutkan bahwa masyarakat masih ramai mendatangi pusat perbelanjaan meskipun daya beli sedang tertekan.

Namun, terjadi pergeseran pola belanja konsumen yang kini lebih selektif dan memilih barang dengan banderol harga lebih murah.

>>> Florentino Perez Kembali Pimpin Real Madrid, Jose Mourinho Siap Latih

"Jadi masyarakat masih tetap ke pusat belanja.

Jadi tingkat kunjungan kalau berdasarkan data kami itu tetap dalam kondisi stabil lah dapat dikatakan, ya ada turun naik sedikit tetapi saya kira dalam kondisi stabil," kata Alphonzus dalam acara Peluncuran Program BINA Holiday & Back to School di Kantor Kementerian Perdagangan (Kemendag), Jakarta Pusat, Senin (8/6/2026).

Berdasarkan catatan APPBI, tingkat keterisian atau okupansi pusat perbelanjaan di tingkat nasional berada dalam kondisi relatif stabil pada kisaran 85%–90%.

Meski demikian, angka tersebut belum sepenuhnya kembali ke level sebelum masa pandemi.

Perubahan tren belanja ini dirasakan dalam kurun waktu 1 hingga 2 tahun terakhir.

Konsumen sekarang lebih memprioritaskan pembelian barang yang memiliki harga satuan atau unit price yang lebih terjangkau.

Menurut Alphonzus, seluruh kategori produk pada dasarnya tetap dibeli oleh masyarakat. Perbedaannya hanya terletak pada pemilihan varian produk yang harganya jauh lebih murah.

Situasi tersebut kemudian ikut memicu lonjakan permintaan terhadap produk-produk murah di pasaran. Dampak lainnya adalah semakin maraknya peredaran barang impor ilegal serta pakaian bekas yang diminati konsumen.

>>> Ancelotti Panggil Ederson ke Skuad Brasil Jelang Piala Dunia 2026

"Itulah yang terjadi bahwa barang impor ilegal makin banyak, makin marak, pakaian bekas makin banyak diminati.

Jadi sebetulnya semuanya dibeli tetapi harga satuannya produk unit price harga unit price-nya yang murah," tuturnya.