"Meskipun kemarin tidak ada kenaikan dari imbas nilai tukar, dengan pelemahan yang signifikan ini sudah hampir pasti harga akan kembali dinaikkan lagi," katanya.

Namun, Redma menegaskan langkah penyesuaian harga bukan dilakukan untuk meningkatkan keuntungan, melainkan agar industri tetap dapat bertahan menghadapi lonjakan biaya produksi.

"Ini dilakukan hanya untuk bertahan saja," ujarnya.

Industri keramik juga menghadapi tekanan yang tidak kalah berat.

>>> Kroasia Kalahkan Slovenia 2-1 dalam Laga Uji Coba Terakhir

Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI) Edy Suyanto mengatakan sektor keramik saat ini terjepit oleh kenaikan harga gas dan depresiasi rupiah secara bersamaan.

Selain membayar sebagian kebutuhan energi menggunakan dolar AS, industri keramik juga masih mengimpor sejumlah bahan baku dan komponen produksi dari luar negeri.

"Jadi satu, harga gas naik ini kami terpukul, kedua kami membayar gas dengan menggunakan US Dollar. Jadi kita bisa bayangkan ini dua impact," ujar Edy.

ASAKI mencatat industri hanya menerima sekitar 40%-45% pasokan gas dengan skema Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) sebesar US$ 7 per MMBTU.

Adapun sisa kebutuhan harus dipenuhi melalui gas hasil regasifikasi LNG dengan harga mencapai US$ 21 per MMBTU.

Meski menghadapi lonjakan biaya produksi, industri keramik belum berencana menaikkan harga jual produk karena masih menghadapi persaingan barang impor dan lemahnya daya beli masyarakat.

Dampak pada Margin dan Risiko PHK

Manager Riset Seknas Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra), Badiul Hadi menyebut, istilah double inflation yang kini dirasakan industri manufaktur sangat beralasan.

Menurut dia, tekanan datang dari dua sisi sekaligus.

Pelemahan rupiah hingga menembus kisaran Rp 18.000 per dolar AS meningkatkan biaya bahan baku, kemasan, dan komponen impor.