>>> Wuling Beri Garansi Seumur Hidup untuk Baterai Eksion EV dan PHEV

Kenaikan tarif juga berpotensi menambah frekuensi perjalanan bus, mengurangi waktu tunggu, dan memperbaiki fasilitas pendukung.

Di balik keuntungan tersebut, kenaikan tarif memiliki risiko membebani masyarakat berpenghasilan rendah.

Kenaikan Rp 1.500 hingga Rp 3.500 per perjalanan dapat mengurangi sisa pendapatan yang dapat dibelanjakan.

Keberlanjutan program tarif Rp 0 bagi kelompok rentan seperti lansia, pelajar, penyandang disabilitas, dan buruh ber-KTP Jakarta menjadi penting.

Risiko lain adalah peralihan pengguna kembali ke kendaraan pribadi, terutama sepeda motor, jika kenaikan tidak dibarengi peningkatan layanan nyata.

"Keberhasilan transisi ini tidak boleh hanya diukur dari efisiensi anggaran atau pendapatan tiket," ucap Djoko.

"Melainkan dari konsistensi pemerintah dalam menjamin jaring pengaman sosial dan peningkatan kualitas operasional," ujar dia.

Jika masyarakat merasa harus membayar lebih tanpa layanan lebih baik, mereka berpotensi meninggalkan transportasi umum.

Dampaknya bukan hanya penurunan jumlah penumpang, tetapi juga bertambahnya kemacetan dan polusi udara.

Tantangan serupa muncul pada layanan Transjabodetabek, di mana kenaikan tarif harus diimbangi skema integrasi yang tepat agar komuter tetap menggunakan transportasi umum.

>>> Kementerian PU Lelang Daihatsu Xenia 2009 Rusak Berat Rp 34 Jutaan

"Hanya dengan komitmen tersebut, modernisasi transportasi Jakarta dapat melangkah maju tanpa mengorbankan daya beli masyarakat dan keberlanjutan lingkungan," kata Djoko.