Praktik menambahkan atau meningkatkan bahan makanan menjadi trik pemasaran yang umum di restoran. Namun, beberapa metode ini berpotensi merugikan konsumen karena biaya tambahan tidak sebanding dengan kualitas.

Menurut laporan Detik Food, penambahan komponen premium sering kali membuat tagihan membengkak. Berikut lima trik yang perlu diwaspadai.

>>> Rupiah Merosot ke Rp18.178 per Dolar AS, Rekor Terlemah Sepanjang Sejarah

Minyak Truffle Sintetis

Aroma minyak truffle memberikan kesan mewah, tetapi biasanya terbuat dari perasa sintetis tanpa jamur truffle asli. Banyak koki internasional menghindarinya karena aroma terlalu kuat dan artifisial.

Biaya ekstra yang dibebankan sering tidak sepadan dengan nilai asli bahan tersebut.

Serpihan Emas (Gold Flakes)

Gold flakes kerap ditambahkan pada menu seperti bistik untuk tampilan glamor. Namun, serpihan emas tidak memiliki rasa dan tidak mengubah tekstur masakan.

Harganya mencapai jutaan rupiah per gram, sehingga otomatis melambungkan harga menu secara signifikan.

>>> Pemerintah Kejar Target Penyelesaian Jalan Tol Solo-Yogyakarta-Kulonprogo

Garam Mewah dan Ekstra Keju

Garam gourmet seperti fleur de sel atau garam Himalaya sering digunakan untuk menarik minat. Restoran mengenakan biaya tambahan tinggi, padahal modalnya sangat murah.

Penambahan keju ekstra juga tidak sebanding antara harga mahal dengan porsi yang didapat.

Keju tambahan cenderung berupa keju olahan tinggi air dan minyak nabati, bukan cheddar premium atau mozzarella.

Rasa asin dan gurih pekat dari keju tambahan berisiko mendominasi hidangan, menutupi bumbu asli masakan.

>>> Bahlil Pastikan Pasokan Gas Domestik Aman di Tengah Kenaikan Harga

Menu Chef's Special

Menu Chef's Special sering dikemas eksklusif, tetapi terkadang digunakan untuk menghabiskan sisa stok bahan. Kualitas bahan tidak pasti, dengan porsi yang dinilai terlalu sedikit dan harga tetap tinggi.