Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan ketersediaan pasokan gas untuk kebutuhan domestik dan sektor industri dalam kondisi aman.

Pernyataan itu disampaikan di Kompleks Parlemen, Jakarta, pada Senin (8/6/2026) untuk merespons kekhawatiran pelaku industri terkait fluktuasi harga energi global.

>>> Michael Carrick Incar Sam Johnstone untuk Manchester United

"Kalau pasokan, saya pastikan bahwa seluruh kebutuhan domestik untuk gas LNG kita semua sudah tersedia. Harganya memang ada terjadi kenaikan, dan itu bukan hanya di Indonesia.

Di dunia pun terjadi hal yang sama," kata Bahlil.

Pemerintah mengakui adanya penyesuaian harga gas yang dipengaruhi oleh tren pasar internasional. Namun, penanganan efisiensi biaya terus diupayakan demi melindungi sektor manufaktur nasional.

"Secara pasokan semuanya ada. Harganya memang ada terjadi koreksi karena mengikuti harga dunia.

Terkecuali hanya di Indonesia naik, di dunia tidak naik," ujar Bahlil.

Kebijakan HGBT dan Ancaman PHK

Kementerian ESDM tetap mempertahankan kebijakan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) untuk menjaga daya saing industri padat karya.

>>> BEI Catat Dua Sekuritas Terapkan Skema Liquidity Provider Saham

"Untuk harga HGBT itu memang sesuai dengan apa yang menjadi keputusan pemerintah. Sampai sekarang kita mencari agar lebih efisien," ucap Bahlil.

Di sisi lain, ancaman pengurangan tenaga kerja membayangi sektor industri akibat lonjakan biaya operasional energi.

"Saya meminta Menteri ESDM Bahlil Lahadalia segera mengambil kebijakan-kebijakan cepat untuk menyelesaikan persoalan gas industri.

Kalau tidak, badai PHK akan terjadi," kata Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Andi Gani Nena Wea.

Kenaikan harga gas juga dirasakan negara tetangga seperti Thailand yang naik dari US$ 9 menjadi US$ 12 per MMBTU, serta Malaysia di kisaran US$ 10-11 per MMBTU.

Berdasarkan data Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki), sektor keramik dalam negeri saat ini baru menerima 40% pasokan gas dengan tarif khusus US$ 7 per MMBTU.

>>> Kepercayaan Investor terhadap Indonesia Melemah Akibat Rupiah dan Kebijakan Ekonomi

Sisanya harus dibeli dengan harga pasar hingga rata-rata mencapai US$ 15 per MMBTU.