Kepercayaan Investor terhadap Indonesia Melemah Akibat Rupiah dan Kebijakan Ekonomi
Kepercayaan investor terhadap Indonesia melemah signifikan. Pelemahan tajam nilai rupiah dan kekhawatiran arah kebijakan ekonomi menjadi penyebab utama.
Sejak menjabat pada 2024, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dinilai menjalankan kebijakan ekonomi yang agresif namun kurang konsisten. Program makan gratis untuk pelajar dan pelonggaran disiplin fiskal menjadi sorotan.
>>> Istana Bantah Isu Pergantian Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa
Sejumlah langkah kebijakan dianggap tidak lazim dan membuat pasar keuangan bergejolak.
Sentralisasi ekspor komoditas melalui Danantara dan rencana pemberian mandat pertumbuhan ekonomi kepada bank sentral mengancam independensi lembaga moneter.
Tekanan eksternal dari gejolak harga energi global turut memperburuk kondisi. Indonesia yang sebelumnya dipandang sebagai pasar negara berkembang menjanjikan kini mengalami penurunan sentimen investor.
Nilai tukar rupiah menjadi sorotan utama.
Mata uang ini melemah lebih dari 8% sepanjang tahun ini dan sempat menyentuh level terendah baru sekitar Rp 18.190 per dolar AS.
Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga 50 basis poin pada Mei dan menghabiskan cadangan devisa sekitar US$ 12 miliar untuk menahan pelemahan.
Namun, tekanan tetap berlanjut.
Investor asing terus menarik dana dari pasar Indonesia.
Arus keluar dari pasar saham mencapai sekitar US$ 3,2 miliar hingga akhir Mei, yang terbesar sejak 2009.
>>> Indonesia dan Filipina Sepakati Barter Komoditas Rp6,33 Triliun
Kepemilikan asing pada obligasi pemerintah juga turun ke level terendah dalam hampir dua dekade.
Lembaga pemeringkat internasional memberi sinyal waspada. Moody's dan Fitch Ratings memangkas prospek kredit Indonesia menjadi negatif karena menurunnya kredibilitas kebijakan.
S&P Global Ratings menyatakan peringkat Indonesia akan bergantung pada upaya memperkuat ruang fiskal.
Penyedia indeks MSCI juga meninjau isu transparansi dan perdagangan saham Indonesia. Jika terjadi penurunan peringkat kredit, investor besar berpotensi terpaksa menjual aset mereka.
Update Terbaru
DSI dan Bursa Mineral: Arsitektur Baru Kedaulatan Komoditas Indonesia
Senin / 08-06-2026, 17:00 WIB
Persija Jakarta Targetkan Juara Liga Bersama Pelatih Shin Tae-yong
Senin / 08-06-2026, 16:59 WIB
Bobby Nasution Tuntut PLN Berikan Kompensasi Pemadaman Listrik di Sumut
Senin / 08-06-2026, 16:56 WIB
Pemerintah Salurkan Dana PIP 2026 dalam Tiga Termin
Senin / 08-06-2026, 16:56 WIB
Kemendag Terbitkan Aturan Baru Perdagangan Elektronik, Gantikan Permendag 31/2023
Senin / 08-06-2026, 16:56 WIB
Harga Minyak WTI Melonjak 4,5% Usai Israel Serang Pabrik Petrokimia Iran
Senin / 08-06-2026, 16:56 WIB
WHO: Pangan Tercemar Sebabkan 1,5 Juta Kematian per Tahun
Senin / 08-06-2026, 16:56 WIB
Prabowo Lantik Nanik Sudaryati Deyang sebagai Kepala Badan Gizi Nasional
Senin / 08-06-2026, 16:54 WIB
Prabowo Lantik Nanik S Deyang sebagai Kepala Badan Gizi Nasional
Senin / 08-06-2026, 16:54 WIB
Kemendag Siapkan Negosiasi Tarif Ekspor Baru dengan AS
Senin / 08-06-2026, 16:54 WIB
Kecelakaan Horor Moto3 Hungaria, David Munoz Patah Tulang Panggul
Senin / 08-06-2026, 16:53 WIB
Anggito Abimanyu Paparkan Kebijakan PPh Final UMKM 0,5 Persen
Senin / 08-06-2026, 16:53 WIB
Studio MAPPA Siapkan Pengumuman Terbaru Anime Jujutsu Kaisen Season 4
Senin / 08-06-2026, 16:52 WIB
Said Iqbal Hadiri Pelantikan Penasihat Khusus Presiden di Istana
Senin / 08-06-2026, 16:52 WIB






