Lonjakan data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) periode Mei 2026 memicu kekhawatiran pasar terhadap inflasi yang bertahan tinggi dan berpotensi menekan nilai tukar rupiah.

Non-Farm Payrolls (NFP) AS mencapai 172.000, jauh melampaui ekspektasi pelaku pasar yang sebelumnya memperkirakan angka 85.000.

>>> Harga Emas Antam 8 Juni 2026 Stagnan di Rp 2.743.000 per Gram

Kondisi pasar tenaga kerja yang solid ini mengindikasikan perekonomian AS belum menunjukkan tanda-tanda perlambatan signifikan.

Situasi tersebut membuat pelaku pasar mengubah ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter Federal Reserve. Peluang suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama semakin membesar.

Kekhawatiran Inflasi dan Dampak ke Rupiah

"Kondisi pasar tenaga kerja yang ketat, ditambah kenaikan harga minyak akibat ketegangan di Timur Tengah, meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap inflasi yang masih bertahan tinggi," ujar pengamat pasar, Sutopo.

Pelaku pasar mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan pada akhir tahun ini.

Sutopo memproyeksikan indeks dolar AS (DXY) akan bergerak pada rentang 97 hingga 102 sepanjang semester II-2026.

Pergantian kepemimpinan Federal Open Market Committee (FOMC) kepada Kevin Warsh pada pertengahan Juni menjadi sentimen penting.

>>> HYBE Labels Rilis Single Kolaborasi Tiga Girlband pada Juni 2026

Level 100 berpotensi menjadi pijakan baru bagi DXY jika Warsh menyampaikan pandangan hawkish untuk mengendalikan inflasi AS yang berada di kisaran 3,8 persen.

Sebaliknya, pelemahan dolar AS baru akan terjadi apabila ketegangan geopolitik Timur Tengah mereda dan inflasi AS turun konsisten.

Prospek penguatan dolar AS diperkirakan membuat rupiah terus menghadapi tekanan eksternal dan domestik hingga akhir tahun.

Nilai tukar rupiah diproyeksikan bergerak dalam rentang Rp 17.800 hingga Rp 18.300 per dolar AS sampai penghujung 2026.

Kuatnya dolar AS dan tingginya imbal hasil aset keuangan AS menjadi faktor eksternal yang menarik aliran modal global keluar dari pasar domestik.

Dari dalam negeri, pelaku pasar masih mencermati perkembangan kondisi fiskal pemerintah serta tren penurunan kepemilikan asing di Surat Berharga Negara (SBN).

>>> LPSK Terima 5.832 Permohonan Restitusi Korban Dana Syariah Indonesia

Kondisi nilai tukar rupiah baru berpotensi mulai stabilisasi menjelang kuartal IV-2026, jika tekanan terhadap dolar AS mereda dan sentimen pasar terhadap aset domestik membaik.