Edukasi kebiasaan makan yang baik pada bayi sebelum menginjak usia dua tahun menjadi langkah strategis untuk mencegah anak tumbuh menjadi pemilih makanan di kemudian hari.

Langkah ini berfokus pada pembangunan kecintaan anak terhadap variasi rasa serta tekstur baru, bukan sekadar melatih kemampuan motorik menggunakan alat makan.

>>> Menteri ESDM Tegaskan Skema Gross Split Hanya untuk Sektor Migas

Pembentukan pola konsumsi tersebut dinilai jauh lebih mudah dilakukan sebelum kebiasaan makan anak telanjur terbentuk saat beranjak dewasa.

Pakar pemberian makan, Karen Le Billon, PhD, menegaskan bahwa kecintaan pada makanan baru bukanlah bawaan lahir, melainkan sesuatu yang perlu diajarkan.

Ia menambahkan bahwa proses belajar makan ini serupa dengan belajar membaca, di mana anak-anak bisa belajar makan dengan baik.

Dokter spesialis anak, Natalie Digate Muth, MD, menjelaskan bahwa pengenalan berbagai variasi rasa sejak dini berfungsi menjaga nafsu makan anak agar tetap terbuka terhadap hidangan luas saat fase picky eater melanda.

Strategi ini dapat diterapkan dengan memberikan variasi bentuk, rasa, serta jenis makanan penunjang seperti potongan ubi rebus, alpukat matang, atau zukini kukus.

Pakar pemberian makan, Dina Rose, PhD, menyarankan orang tua untuk memanfaatkan kondisi anak kecil yang belum memiliki pemikiran baku mengenai jadwal dan jenis menu makanan.

Orang tua juga disarankan menyajikan pencuci mulut manis bersamaan dengan menu utama agar tidak dianggap sebagai hadiah.

Proses eksplorasi rasa baru membutuhkan kesabaran karena respons penolakan awal bukan berarti anak membenci makanan tersebut.

>>> Moonshot AI Kumpulkan Dana Segar Rp36 Triliun, Valuasi Tembus Rp545 Triliun

Profesor pangan dan nutrisi di University of Georgia, Leann Birch, PhD, menekankan pentingnya mengurangi tekanan psikologis pada anak saat makan.